Akhir-akhir ini
beban di pundak rasanya bukan hanya beban biasa. Segala peristiwa yang
menimbulkan masalah dan semua keluh kesah sudah tercurah pada orang-orang
terdekat. Beban yang seharusnya bisa terasa ringan ketika dipikul bersama kali
ini menjadi tidak mempengaruhi apa-apa. Sebenarnya ya hanya sedikit mengurangi
rasa yang nyumpel di dada karena bukan hanya aku sendiri yang menyimpannya. Ada
orang lain yang mengetahuinya. Entah disimpan juga atau sudah dilupakan begitu
saja.
Aku lelah. Lelah
perasaan, badan, dan pikiran. Masalah asmara yang sebenarnya tidak ingin
kulebih-lebihkan tetap saja menjadi tidak bisa diabaikan begitu saja dan harus
dicari jalan keluarnya. Memang hidup bukan melulu soal cinta, tapi kurasa aku
selalu gagal dalam memahami apa itu cinta dengan segala soal dan persoalannya. Karenanya,
aku selalu mencari kegiatan supaya lupa dengan permasalahan yang begituan. Nihil.
Aku tak mendapat apa-apa, yang ada malah hanya buang-buang tenaga. Alhasil semua
itu hanya menyumbat pikiran untuk menemukan ide-ide brilian yang biasanya
sering bermunculan. Rasanya, otak ini juga ingin sekali untuk bisa bernafas
dengan leluasa.
Ditambah lagi
dengan timbulnya duka cita menjadi senior yang paling senior di tingkat
menengah atas. Setelah berakhirnya ujian tengah semester beberapa hari yang
lalu, rasanya otak ini butuh sesuatu untuk mendinginkannya. Merendamkannya di
kutub selatan, mungkin. Baru saja selesai, deadline sudah berserakan
dimana-mana. Saking tidak terurusnya sampai berserakan dan berceceran. Jadwal penjajakan
ujian nasional di depan mata. Belajar, sekolah, pendalaman materi, latihan
senam, latihan drama, belum lagi banyak tugas yang membutuhkan kerja otak untuk
pintar-pintar mencari inspirasi. Masih untung aku tidak ada kegiatan lain lagi
di luar dari itu semua. Oh jadi gini
kelas tiga.
Aku kehilangan
semangat. Kelihatannya melakukan segala sesuatu dengan benar dan lancar
meskipun tidak ada niatan yang mendasar. Tapi lama-kelamaan makin parah, tidak
melakukan sesuatu dan tidak berniat sama sekali. Seperti aku sekarang ini. Jangankan
berlari, berjalan saja aku malas. Kira-kira begitulah ibaratnya. Bukan kali
pertamanya aku berada pada situasi seperti ini. tapi seharusnya aku bisa
menghindarinya, atau setidaknya bisa mengatasi lah. COME ON WAKE UP! 3rd
GRADE IN SENIOR HIGH SCHOOL! JUST FACE IT! ENJOY! LET IT FLOW! TAKE IT EASY!
Sampai dengan
pagi menjelang siang tadi sewaktu pelajaran Bahasa Inggris aku malah browsing
(bukan hanya saat pelajaran ini ya, ini karena si malas tadi. catet!) dan berhasil
menemukan sesuatu.
Allah Tahu
Lelahmu. Lelah itu hilang saat kita bersyukur – Anindya Roswita
Iya Mbak Anin,
aku lupa bersyukur bahwa lelah yang aku rasakan saat ini adalah lelah untuk
masa depan yang lebih cerah. Aku terlalu menikmati kelelahanku ini dan
menjadikannya teman yang selalu merengek karena enggan ditinggalkan. Dengan santainya
aku selalu memanjakan kelelahanku dan membiarkannya selalu menggelendotiku saat
aku hendak bangkit. MashaAllah sekali, membaca postingan Mbak Anin tadi aku
semacam mendapat sentilan. Rasanya aku ingin menghujat diriku sendiri yang
terlalu hiperbolis dengan lelah ini. Begitu mudahnya aku mengucapkan kata lelah
padahal ini belum ada apa-apanya dibandingkan dengan lelah yang akan kualami
beberapa bulan kemudian. Segini aja
sudah bilang lelah, besok mau bilang apa?!
Teman-teman yang
membaca ini, kuharap kalian tidak menjadi seperti apa yang kalian baca ini. Ini
adalah hal bodoh tak seharusnya kulakukan. Jangan tiru adegan ini. Kalaupun ada
yang sudah terlanjur, segeralah kalian menemukan hal-hal yang sekiranya dapat membangkitkan
kalian. Lakukan hal-hal positif, bermanfaat untuk diri sendiri ataupun untuk oranglain.
Tetapi kuncinya satu, kalau kalian merasa lelah, mencobalah lebih dekat dengan
Tuhan.
Pernahkah kita
membayangkan, tatkala kita lelah dalam mencari ridho Tuhan, sedangkan Tuhan tak
pernah lelah ketika harus mengawasi kita setiap detiknya, menjaga dan
melindungi kita. Pernahkah terbesit di pikiran kita bagaimana jika Tuhan lelah
dengan itu semua, apa yang bisa kita lakukan? Mari kita renungkan :)
