Selasa, 14 Oktober 2014

Bukan Lelah Biasa


Akhir-akhir ini beban di pundak rasanya bukan hanya beban biasa. Segala peristiwa yang menimbulkan masalah dan semua keluh kesah sudah tercurah pada orang-orang terdekat. Beban yang seharusnya bisa terasa ringan ketika dipikul bersama kali ini menjadi tidak mempengaruhi apa-apa. Sebenarnya ya hanya sedikit mengurangi rasa yang nyumpel di dada karena bukan hanya aku sendiri yang menyimpannya. Ada orang lain yang mengetahuinya. Entah disimpan juga atau sudah dilupakan begitu saja.


Aku lelah. Lelah perasaan, badan, dan pikiran. Masalah asmara yang sebenarnya tidak ingin kulebih-lebihkan tetap saja menjadi tidak bisa diabaikan begitu saja dan harus dicari jalan keluarnya. Memang hidup bukan melulu soal cinta, tapi kurasa aku selalu gagal dalam memahami apa itu cinta dengan segala soal dan persoalannya. Karenanya, aku selalu mencari kegiatan supaya lupa dengan permasalahan yang begituan. Nihil. Aku tak mendapat apa-apa, yang ada malah hanya buang-buang tenaga. Alhasil semua itu hanya menyumbat pikiran untuk menemukan ide-ide brilian yang biasanya sering bermunculan. Rasanya, otak ini juga ingin sekali untuk bisa bernafas dengan leluasa.

Ditambah lagi dengan timbulnya duka cita menjadi senior yang paling senior di tingkat menengah atas. Setelah berakhirnya ujian tengah semester beberapa hari yang lalu, rasanya otak ini butuh sesuatu untuk mendinginkannya. Merendamkannya di kutub selatan, mungkin. Baru saja selesai, deadline sudah berserakan dimana-mana. Saking tidak terurusnya sampai berserakan dan berceceran. Jadwal penjajakan ujian nasional di depan mata. Belajar, sekolah, pendalaman materi, latihan senam, latihan drama, belum lagi banyak tugas yang membutuhkan kerja otak untuk pintar-pintar mencari inspirasi. Masih untung aku tidak ada kegiatan lain lagi di luar dari itu semua. Oh jadi gini kelas tiga.

Aku kehilangan semangat. Kelihatannya melakukan segala sesuatu dengan benar dan lancar meskipun tidak ada niatan yang mendasar. Tapi lama-kelamaan makin parah, tidak melakukan sesuatu dan tidak berniat sama sekali. Seperti aku sekarang ini. Jangankan berlari, berjalan saja aku malas. Kira-kira begitulah ibaratnya. Bukan kali pertamanya aku berada pada situasi seperti ini. tapi seharusnya aku bisa menghindarinya, atau setidaknya bisa mengatasi lah. COME ON WAKE UP! 3rd GRADE IN SENIOR HIGH SCHOOL! JUST FACE IT! ENJOY! LET IT FLOW! TAKE IT EASY!

Sampai dengan pagi menjelang siang tadi sewaktu pelajaran Bahasa Inggris aku malah browsing (bukan hanya saat pelajaran ini ya, ini karena si malas tadi. catet!) dan berhasil menemukan sesuatu.
Allah Tahu Lelahmu. Lelah itu hilang saat kita bersyukur – Anindya Roswita
Iya Mbak Anin, aku lupa bersyukur bahwa lelah yang aku rasakan saat ini adalah lelah untuk masa depan yang lebih cerah. Aku terlalu menikmati kelelahanku ini dan menjadikannya teman yang selalu merengek karena enggan ditinggalkan. Dengan santainya aku selalu memanjakan kelelahanku dan membiarkannya selalu menggelendotiku saat aku hendak bangkit. MashaAllah sekali, membaca postingan Mbak Anin tadi aku semacam mendapat sentilan. Rasanya aku ingin menghujat diriku sendiri yang terlalu hiperbolis dengan lelah ini. Begitu mudahnya aku mengucapkan kata lelah padahal ini belum ada apa-apanya dibandingkan dengan lelah yang akan kualami beberapa bulan kemudian. Segini aja sudah bilang lelah, besok mau bilang apa?!

Teman-teman yang membaca ini, kuharap kalian tidak menjadi seperti apa yang kalian baca ini. Ini adalah hal bodoh tak seharusnya kulakukan. Jangan tiru adegan ini. Kalaupun ada yang sudah terlanjur, segeralah kalian menemukan hal-hal yang sekiranya dapat membangkitkan kalian. Lakukan hal-hal positif, bermanfaat untuk diri sendiri ataupun untuk oranglain. Tetapi kuncinya satu, kalau kalian merasa lelah, mencobalah lebih dekat dengan Tuhan.

Pernahkah kita membayangkan, tatkala kita lelah dalam mencari ridho Tuhan, sedangkan Tuhan tak pernah lelah ketika harus mengawasi kita setiap detiknya, menjaga dan melindungi kita. Pernahkah terbesit di pikiran kita bagaimana jika Tuhan lelah dengan itu semua, apa yang bisa kita lakukan? Mari kita renungkan :)