Jumat, 08 Agustus 2014

Surat Sesaat #3


 Kusadari semua bahwa memang cintamu bukan untukku. Telah Kuberikan – Repvblik
Untuk lelaki yang dulu memberikan cinta untukku dan sekarang entah kemana cinta itu.

Belum genap satu tahun perpisahanku denganmu, dan aku masih menunggumu sementara kamu sudah pergi jauh meninggalkanku. Wahai Allah, Zat yang mampu membolak-balikkan hati manusia. Aku tak bisa lagi mengelaknya. Hmmmm aku teringat dulu kau pernah bilang kalau cewek seperti aku ini pasti mudah jatuh cinta. Haha bolehkah aku menertawaimu sepuasku? Haha. Celakanya, kalimat yang pernah kau lontarkan padaku itu justru menjadi pedang tajam yang sebentar lagi menghunusmu. Aku sakit mendengar kalimat itu, rasanya (dulu) kau segitu meremehkan cintaku padamu. Sekarang bisa kita saksikan sendiri siapa yang hatinya mudah jatuh pada hati orang lain? Apa kau bisa sesakit aku dengan kalimat “cewek kaya kamu gampang jatuh cinta”? Atau malah kamu lupa kalau kamu pernah menyakitiku dengan kalimat itu?
Everything has changed. Semua butuh berubah. Berubah butuh proses. Dan proses butuh waktu. Waktu ke waktu terasa sangat cepat bagi yang melaluinya dengan riang gembira, namun begitu lambat bagi yang melaluinya dengan penuh duka cita. Sebenarnya juga orang itu sendiri yang membuatnya menjadi begitu. Seiring berjalannya waktu semua bisa terjadi sesuai kehendak Tuhan. Berkat waktu juga, kita pernah merasakan melalui waktu yang melintas cepat karena kita larut dalam canda tawa yang diselimuti rasa cinta. Dan itu pernah, sekali dua kali sekian kali tapi bukan seterusnya. Karenanya, kita juga harus merasakan yang sebaliknya. Tetapi kurasa itu hanya berlaku untukku. Yah harusnya kamu sudah tahu sendiri lah.
Lalu aku memikirkan bagaimana orang-orang sangat menyayangkan perpisahan kita. Dulu mereka juga meyakinkanku bahwa kamu tak bisa menemukan perempuan lain yang sepertiku. Atau yang tidak terlalu hiperbola, kamu bisa saja dekat dengan perempuan lain tapi tidak untuk berhubungan yang lebih dari teman. Lah itu kan dulu, sekarang mah beda. Bagaimanapun juga aku tetap sangat berterimakasih pada siapapun yang telah mendukungku penuh atas kebersamaan kita dulu dan menyayangkan perpisahan kita. Tetapi yang menjalani hubungan ini adalah kita, aku dan kamu. Bukan aku dan dia, atau kamu dan dia, bahkan bukan aku, kamu, dan dia. Makanya dari itu, babak terakhir dalam kasus ini adalah kita sendiri penentunya. Jadi maafkan kami ya teman-teman :’)

Hingga waktu beranjak pergi kau mampu hancurkan hatiku. Ada yang Hilang – Ipank
Untuk lelaki yang (tidak) sadar bahwa  di sini ada hati yang selalu terluka.

Ya aku tahu hidup tak melulu tentang cinta. Tapi tiap kali membicarakan cinta kurasa aku selalu gagal mengartikan cinta yang sesungguhnya. Cinta itu bukan semata-mata menjalin hubungan berdua aman damai sentosa bahagia selamanya. Kalau memang ada yang tidak setuju dengan kalimat itu mungkin dia sedang dalam masa cinta-cintanya dengan pasangannya. Kalau yang sudah memasuki tengah-tengah perjalanan atau bahkan udah di ujung jalan hmmm baru tahu rasa. Aku sudah pernah bilang, tanamanku aku sendiri yang menanam lalu kelak aku sendiri yang akan memanen, dan aku tidak suka tanamanku di rusak orang. Benar, kita selalu melakukan yang terbaik demi hasil panen yang baik juga. Tapi pada akhirnya aku yang memanen belum pada saatnya sehingga hasilnya tidak seperti apa yang aku harapkan. Setelah itu aku berniat menanamnya lagi namun ternyata tanaman itu sudah mulai dirawat oleh oranglain. Aku gagal. Meskipun tanamanku tidak sempat dirusak orang, tapi tanaman itu sudah dipunyai orang. Aku juga tidak suka itu makanya aku bilang aku gagal. Sampai di sini semoga kamu paham.
Tolong jangan pikir bahwa aku sangat terlalu begitu mencintaimu, atau bahkan keterlaluan dalam mencintaimu. Aku selalu ingat kamu berpesan untuk tidak perlu mencintai sesuatu dengan berlebihan. Kumohon jangan asumsikan cintaku ke kamu ini berlebihan, namun aku hanya ingin mencoba untuk bertahan. Karena berlebihan itu identik bahkan cenderung takut untuk kehilangan sedangkan bertahan itu mampu memendam dan menyimpan. Cinta. Iya cinta. Cinta yang dipendam dan disimpan. Aku tak tahu, ini pantas atau tidak untuk kulakukan. Namun hingga saat ini aku masih menyembunyikanmu di hati kecilku dan tak berniat sedikitpun untuk mengusirnya. Meskipun sebenarnya ada sisi lain di hati ini yang terluka melihatmu bersamanya.

Jika nanti aku yang harus pergi kuterima walau sakit hati. Sandiwara cinta – Repvblik
Untuk lelaki yang membuatku (terpaksa) harus pergi.

Aku tahu ini semua bukan semata-mata karena kesalahanmu. Bukan juga maumu dan mauku. Tapi kita hanya manusia biasa yang bisa berbuat apa, kita hanya  manusia yang tak bisa luput dari khilaf dan dosa. Maafkan aku atas segala kebodohanku. Aku bodoh. Mengapa aku terlalu lancang menganggumu?! Aku selalu saja mengusik kehidupanmu dan segalanya tentang dirimu. Sementara kamu selama ini sudah menemukan dia yang baru. Pantas saja kamu akhir-akhir ini seperti menjauh dariku. Entah hanya perasaanku atau memang kenyataannya begitu. Andai aku tahu ini dari awal mungkin aku tak akan terlihat sebodoh dan sejahat ini. Dan aku mungkin akan memilih untuk pergi. Daripada harus mempermalukan diri sendiri.
Tapi setelah kau menemukan dia mengapa masih ada yang terasa mengganjal di hati. Rasanya masih kurang afdol kalau aku tak menanyakan kabar hati kamu terhadapku. Aku hanya ingin memastikan kalau aku masih ada di sana, karena rasanya kurang meyakinkan kalau kita bersama dalam waktu yang tidak sebentar lalu perasaanmu sudah hambar. Emang dulunya cinta itu dibumbui atau memang sengaja tidak? Atau kalau kau benar-benar sudah menemukan apa kelebihannya untuk menutupi kekuranganmu maka hendaknya kau segera me-lu-pa-kan-ku. Cewek mana yang ingin cowoknya masih terbayang masa lalunya? Nggak kebayang. Tak kusangka dan tak kuduga. Jawabnnya melenceng jauh dari keduanya. Aku tak menyangka lagi-lagi kamu berhasil membuatku terluka. Aku sudah mencoba menyusun kalimat pertanyaan agar tak membuatmu sakit hati atau setidaknya bisa membuatmu menjawab dengan ketulusan hati. Ah mungkin aku salah ambil langkah, begitu saja positif thinkingnya. Setelah tahu kau menemukannya aku bahkan tidak kau perbolehkan mengetahui isi hatimu (untukku) sebenarnya. Haha memang aku ini siapa? Seoalah-olah semesta tak mengizinkanku menjalin relasi yang baik denganmu. Memang, aku tak ada apa-apanya dan aku tak berhak tahu apa-apa.
Sampai sejauh ini juga, aku belum bisa memastikan langkah mana yang harus kuambil. Kalau-kalau aku salah langkah lagi, aku belum siap ambil resiko. Cari amannya saja ya aku masih bertanya-tanya pada hati sendiri. Apakah aku harus stay on atau move on. Ketika bertahan namun tetap saja diabaikan atau melepaskan tapi masih sangat mengaharapkan. Rasanya semua sama sulitnya. Atau karena aku yang belum mantap untuk mencoba? Entahlah.


Salam hangat dari yang masih mencinta dengan (kurang) sangat.