Kusadari semua bahwa
memang cintamu bukan untukku. Telah Kuberikan – Repvblik
Untuk lelaki yang dulu
memberikan cinta untukku dan sekarang entah kemana cinta itu.
Belum genap satu tahun perpisahanku
denganmu, dan aku masih menunggumu sementara kamu sudah pergi jauh
meninggalkanku. Wahai Allah, Zat yang mampu membolak-balikkan hati manusia. Aku
tak bisa lagi mengelaknya. Hmmmm aku teringat dulu kau pernah bilang kalau
cewek seperti aku ini pasti mudah jatuh cinta. Haha bolehkah aku menertawaimu
sepuasku? Haha. Celakanya, kalimat yang pernah kau lontarkan padaku itu justru
menjadi pedang tajam yang sebentar lagi menghunusmu. Aku sakit mendengar
kalimat itu, rasanya (dulu) kau segitu meremehkan cintaku padamu. Sekarang bisa
kita saksikan sendiri siapa yang hatinya mudah jatuh pada hati orang lain? Apa
kau bisa sesakit aku dengan kalimat “cewek kaya kamu gampang jatuh cinta”? Atau
malah kamu lupa kalau kamu pernah menyakitiku dengan kalimat itu?
Everything has changed. Semua butuh
berubah. Berubah butuh proses. Dan proses butuh waktu. Waktu ke waktu terasa
sangat cepat bagi yang melaluinya dengan riang gembira, namun begitu lambat
bagi yang melaluinya dengan penuh duka cita. Sebenarnya juga orang itu sendiri
yang membuatnya menjadi begitu. Seiring berjalannya waktu semua bisa terjadi
sesuai kehendak Tuhan. Berkat waktu juga, kita pernah merasakan melalui waktu
yang melintas cepat karena kita larut dalam canda tawa yang diselimuti rasa
cinta. Dan itu pernah, sekali dua kali sekian kali tapi bukan seterusnya. Karenanya,
kita juga harus merasakan yang sebaliknya. Tetapi kurasa itu hanya berlaku
untukku. Yah harusnya kamu sudah tahu sendiri lah.
Lalu aku memikirkan bagaimana orang-orang
sangat menyayangkan perpisahan kita. Dulu mereka juga meyakinkanku bahwa kamu
tak bisa menemukan perempuan lain yang sepertiku. Atau yang tidak terlalu hiperbola,
kamu bisa saja dekat dengan perempuan lain tapi tidak untuk berhubungan yang
lebih dari teman. Lah itu kan dulu,
sekarang mah beda. Bagaimanapun juga aku tetap sangat berterimakasih pada
siapapun yang telah mendukungku penuh atas kebersamaan kita dulu dan
menyayangkan perpisahan kita. Tetapi yang menjalani hubungan ini adalah kita,
aku dan kamu. Bukan aku dan dia, atau kamu dan dia, bahkan bukan aku, kamu, dan
dia. Makanya dari itu, babak terakhir dalam kasus ini adalah kita sendiri
penentunya. Jadi maafkan kami ya
teman-teman :’)
Hingga waktu beranjak pergi kau mampu hancurkan hatiku. Ada
yang Hilang – Ipank
Untuk lelaki yang (tidak)
sadar bahwa di sini ada hati yang selalu
terluka.
Ya aku tahu hidup tak melulu tentang
cinta. Tapi tiap kali membicarakan cinta kurasa aku selalu gagal mengartikan
cinta yang sesungguhnya. Cinta itu bukan semata-mata menjalin hubungan berdua
aman damai sentosa bahagia selamanya. Kalau memang ada yang tidak setuju dengan
kalimat itu mungkin dia sedang dalam masa cinta-cintanya dengan pasangannya. Kalau
yang sudah memasuki tengah-tengah perjalanan atau bahkan udah di ujung jalan
hmmm baru tahu rasa. Aku sudah pernah bilang, tanamanku aku sendiri yang
menanam lalu kelak aku sendiri yang akan memanen, dan aku tidak suka tanamanku
di rusak orang. Benar, kita selalu melakukan yang terbaik demi hasil panen yang
baik juga. Tapi pada akhirnya aku yang memanen belum pada saatnya sehingga
hasilnya tidak seperti apa yang aku harapkan. Setelah itu aku berniat
menanamnya lagi namun ternyata tanaman itu sudah mulai dirawat oleh oranglain. Aku
gagal. Meskipun tanamanku tidak sempat dirusak orang, tapi tanaman itu sudah dipunyai
orang. Aku juga tidak suka itu makanya aku bilang aku gagal. Sampai di sini
semoga kamu paham.
Tolong jangan pikir bahwa aku sangat
terlalu begitu mencintaimu, atau bahkan keterlaluan dalam mencintaimu. Aku selalu
ingat kamu berpesan untuk tidak perlu mencintai sesuatu dengan berlebihan. Kumohon
jangan asumsikan cintaku ke kamu ini berlebihan, namun aku hanya ingin mencoba
untuk bertahan. Karena berlebihan itu identik bahkan cenderung takut untuk kehilangan
sedangkan bertahan itu mampu memendam dan menyimpan. Cinta. Iya cinta. Cinta yang
dipendam dan disimpan. Aku tak tahu, ini pantas atau tidak untuk kulakukan. Namun
hingga saat ini aku masih menyembunyikanmu di hati kecilku dan tak berniat
sedikitpun untuk mengusirnya. Meskipun sebenarnya ada sisi lain di hati ini
yang terluka melihatmu bersamanya.
Jika nanti aku yang harus pergi kuterima walau sakit hati.
Sandiwara cinta – Repvblik
Untuk lelaki yang
membuatku (terpaksa) harus pergi.
Aku tahu ini semua bukan semata-mata
karena kesalahanmu. Bukan juga maumu dan mauku. Tapi kita hanya manusia biasa
yang bisa berbuat apa, kita hanya
manusia yang tak bisa luput dari khilaf dan dosa. Maafkan aku atas
segala kebodohanku. Aku bodoh. Mengapa aku terlalu lancang menganggumu?! Aku selalu
saja mengusik kehidupanmu dan segalanya tentang dirimu. Sementara kamu selama
ini sudah menemukan dia yang baru. Pantas saja kamu akhir-akhir ini seperti
menjauh dariku. Entah hanya perasaanku atau memang kenyataannya begitu. Andai
aku tahu ini dari awal mungkin aku tak akan terlihat sebodoh dan sejahat ini. Dan
aku mungkin akan memilih untuk pergi. Daripada harus mempermalukan diri
sendiri.
Tapi setelah kau menemukan dia mengapa
masih ada yang terasa mengganjal di hati. Rasanya masih kurang afdol kalau aku
tak menanyakan kabar hati kamu terhadapku. Aku hanya ingin memastikan kalau aku
masih ada di sana, karena rasanya kurang meyakinkan kalau kita bersama dalam
waktu yang tidak sebentar lalu perasaanmu sudah hambar. Emang dulunya cinta itu dibumbui atau memang sengaja tidak? Atau kalau
kau benar-benar sudah menemukan apa kelebihannya untuk menutupi kekuranganmu
maka hendaknya kau segera me-lu-pa-kan-ku. Cewek mana yang ingin cowoknya masih
terbayang masa lalunya? Nggak kebayang.
Tak kusangka dan tak kuduga. Jawabnnya melenceng jauh dari keduanya. Aku tak
menyangka lagi-lagi kamu berhasil membuatku terluka. Aku sudah mencoba menyusun
kalimat pertanyaan agar tak membuatmu sakit hati atau setidaknya bisa membuatmu
menjawab dengan ketulusan hati. Ah mungkin
aku salah ambil langkah, begitu saja positif thinkingnya. Setelah tahu kau
menemukannya aku bahkan tidak kau perbolehkan mengetahui isi hatimu (untukku)
sebenarnya. Haha memang aku ini siapa? Seoalah-olah semesta tak mengizinkanku
menjalin relasi yang baik denganmu. Memang, aku tak ada apa-apanya dan aku tak
berhak tahu apa-apa.
Sampai sejauh ini juga, aku belum bisa
memastikan langkah mana yang harus kuambil. Kalau-kalau aku salah langkah lagi,
aku belum siap ambil resiko. Cari amannya saja ya aku masih bertanya-tanya pada
hati sendiri. Apakah aku harus stay on atau move on. Ketika bertahan namun tetap
saja diabaikan atau melepaskan tapi masih sangat mengaharapkan. Rasanya semua
sama sulitnya. Atau karena aku yang belum mantap untuk mencoba? Entahlah.
Salam
hangat dari yang masih mencinta dengan (kurang) sangat.
