Kamis, 25 Juli 2013

Hutangku Bintang


HUTANGKU BINTANG

Aku berjalan enggan pulag ke rumah yang tak seindah dulu. Melewati gang-gang sempit. Terkadang beberapa tikus putih bermunculan dan bersembunyi di balik tong sampah. Kemana perginya kucing pemburu? Aku berhenti dan menatap langit. Bintang senja bersinar keemasan. Sebuah bola menggelinding ke arahku, terlihat sosok menyembul dari balik pagar. Gadis kecil berkepang dua dengan guratan takut terpancar di matanya kala itu. Ia kembali masuk dan tak terlihat lagi. Aku mengambil bola itu dan menaruhnya di dekat pagar. Tersenyum kemudian berlalu.

Nomor 12, satu blok lagi rumahku terlihat. Rumah kecil jingga penuh cerita. Mobil silver tampak meninggalkan rumahku. Ada apa? Aku berlari kecil sambil memegang papan skateboardku erat-erat. Ku dapati orangtuaku berjalan dengan lesu. Aku segera masuk dan tidak berniat menanyakan hal itu pada mereka.
“Darimana kamu?” tanya Papa gerang melihatku berjalan begitu saja. Aku balas menatapnya tajam.
“Seperti yang Papa lihat.” Kataku. Aku kembali berjalan tanpa menghiraukannya. Dadaku masih dipenuhi amarah padanya.
“Kamu hidup itu bernafaskan hutang!” suara Papa agak meninggi. Langkahku tertahan. Aku menoleh.
“Maksud Papa?”
“Apa yang kamu maka, kamu pakai, kamu tinggali sekarang, dari mana kalau bukan hutang?” tanya Papa menyayat hatiku.
“Tapi, Pa…”
“Papa dipecat. Bagaimana Papa membayar semua ini? Besok rentenir akan datang menyita rumah kita” suaranya melembut. Terlihat frustasi. Mama berusaha menenangkannya. Aku termenung dan kembali melanjutkan langkahku.
Dalam kamarku …
Aku mengepak barang-barangku. Aku tak menyangka semua ini terjadi. Ku pecah celengan babiku. Lumayan untuk mengisi perutku beberapa hari yang akan datang. Tiba-tiba pintu terbuka perlahan.
“Sayang… maafin Papa ya?” kata Mama lembut. Aku tersenyum.
“Hidup itu anugrah. Kita harus bersyukur dengan segala yang ada.” Kalimatnya tertahan. Aku tertunduk, tidak berani menatap matanya yang berkaca-kaca.
“Kamu bisa melanjutkan sekolah merupakan kebanggan besar bagi Mama.” Lanjutnya. Untuk pertama kalinya semenjak aku remaja, aku menangis. Hatiku luluh lantak di depan Mama. Ia memeluk dan membelaiku, kasih sayang hangat yang selama ini aku rindukan.
***

Rumah itu, terlihat semrawut, kecil, tak terurus. Cat temboknya mulai memudar. Aku tak yakin akan betah di sana. Rumah baru di pedalaman kota, jauh dari peradaban. Aku tak punya apa-apa. Samua amblas di tangan para rentenir. Hutang pun masih menumpuk. Arggghhhh…
Mama dan Papa mulai sibuk membenahi pekarangan dan membersihkan rumah. Keringat pilu menetes membasahi tubuh mereka. Aku pun sibuk, sibuk dengan pikiran yang terus menghantuiku. Ku pandang jajaran pohon yang berdiri tegak seakan menyapaku hangat. Daunnya melambai-lambai tertiup angin. Aku suka itu.
“Keiza… Ngapain kamu? Sana bantu Mama” kata Papaku sambil menggertakku. Aku berjalan malas dan membantunya dengan enggan,
***

“Aduh sekarang aku miskin. Tinggal di kolong jembatan. Minta-minta di perempatan jalan” cibir Ella. Deg!!! Aku menatapnya tajam. Ku dorong kursi di depannya dan pergi.
“Ehemm… Sang ratu marah” katanya lagi. Aku tak menghiraukannya. Biar puas ia menertawakannku.
Aku berjalan dan terus berjalan. Menerobos kerumunan siswa yang hilir mudik, berkeliaran. Aku berhenti di depan air mancur yang di bawahnya ada sekawanan ikan-ikan kecil. Tiba-tiba kurasakan tangan hangat menyentuh punddakku. Ia tersenyum. Zahra, sahabatku. Ia kemudian duduk di sampingku. Aku berbeda jauh dengannya. Ia polos, sederhana, baik juga pintar. Sedangkan aku? Urakan, bandel tapi tak kalah pintar dengannya. Tapi entah mengapa walau seberapa bandelnya aku, ia tetap mau bersahabat denganku. –Sahabat Sejati-
“Ada kalanya daun pun berguguran, tapi daun baru akan menggantikannya.” Katanya lembut. Aku tersenyum.
“Ra.. Aku gak tahu, apa aku masih bisa nglanjutin sekolah apa enggak.” Kataku. Aku tertunduk, berusaha menyembunyikan air mataku.
“Za.. Kamu bisa!! Mana Keiza yang aku kenal?” aku memeluknya. Pelukan tukus dari seorang sahabat.
“Makasih, Ra”
Tet..  Tet .. Tet .. Bel tanda masuk berbunyi. Aku bangkit dan berjalan beriringan bersamamya. Sekarang, aku lebih mantap menjalani hariku, hari ini.
***

Serangkaian alur kehidupan mengantarku pada hari-hari terakhirku di sekolah ini. Mengantarkanku pada kesuksesan dengan prestasi terbaik di sekolahku. Aku mendapat beasiswa ke salah satu  SMA favorit di kotaku.
Kebahagiaan itu hanya sementara. Di gubuk kecilku, aku harus berjuang mati-matian untuk bisa melanjutkan sekolah. Penghasilan orangtuaku hanya cukup untuk membiayai makan sehari-hari. Papa sering marah-marah. Mama, ia sakit kini dan aku harus merawatnya. Betapa berat hidupku.
***

Masa SMA-ku
Pagi hari, aku harus menjajakkan kue-kue buatan mamaku sebelum menitipkannya di toko. Usai pulang sekolah aku harus bekerja dalam usiaku yang baru 15 tahun ini. Menjadi penjaga toko dan baby sister cilik. Badanku semakin kurus, karena aku hanya makan apa yang ada. Kini, aku bisa belajar arti hidup yang sebenarnya.

Kurang lebih 3 tahun berlalu…
Masa-masa tersulit dalam hidupku telah ki lalui. Kadang aku berfikir untuk tak ada lagi di dunia ini. Tapi, itu bukan Keiza. Keiza harus tegar. Sampai akhirnya, ingin ku berteriak sekencang-kencangnya agar semua orang tahu, agar dunia tahu bahwa keterbatasan tak menghalangiku mengejar cita-cita. Aku lulus dengan nilai tertinggi. Beasiswa kembali ku raih. AKU BISA, AKU PASTI BISA !! Aku yakin suatu saat nanti. Aku akan berkilau menggantikan bintang di sana.
Aku melanjutkan kuliahku di Amerika dan bekerja di salah satu perusahaan terkemuka di sana. Kini aku bahagia. Hutang-hutang yang dulu menjerat keluargaku terbayar lunas, di usia mereka yang semakin renta. Rumahku sederhana dengan taman kecil di depannya, hadiah kecil untuk Mama dan Papa. Bahkan aku dapat membangun yayasan yatim piatu. Karena bagiku berbagi adalah hal terindah.

-The End-


~Bukan yang kita miliki yang membuat kita kaya, melainkan yang dapat kita hargai dan nikmati, itulah kekayaan yang sesungguhnya~

tulisan tangan Weni Widyaningsih -Sahabat Sejati- semoga yang membaca selalu mengingat kalimat terakhir dalam cerita ini. terimaksih kau mengingatkanku tetaplah menjadi sahabatku yang selalu mengingatkanku tentang segalanya selama aku masih bisa menghirup udara di dunia yang begitu indah dengan kehadiranmu ini. thanks for being my best and the best friend