HUTANGKU
BINTANG
Aku berjalan enggan pulag ke rumah yang tak seindah dulu.
Melewati gang-gang sempit. Terkadang beberapa tikus putih bermunculan dan
bersembunyi di balik tong sampah. Kemana perginya kucing pemburu? Aku berhenti
dan menatap langit. Bintang senja bersinar keemasan. Sebuah bola menggelinding
ke arahku, terlihat sosok menyembul dari balik pagar. Gadis kecil berkepang dua
dengan guratan takut terpancar di matanya kala itu. Ia kembali masuk dan tak
terlihat lagi. Aku mengambil bola itu dan menaruhnya di dekat pagar. Tersenyum
kemudian berlalu.
Nomor 12, satu blok lagi rumahku terlihat. Rumah kecil jingga penuh cerita. Mobil silver tampak meninggalkan rumahku. Ada apa? Aku berlari kecil sambil memegang papan skateboardku erat-erat. Ku dapati orangtuaku berjalan dengan lesu. Aku segera masuk dan tidak berniat menanyakan hal itu pada mereka.
“Darimana kamu?” tanya Papa gerang melihatku berjalan begitu
saja. Aku balas menatapnya tajam.
“Seperti yang Papa lihat.” Kataku. Aku kembali berjalan
tanpa menghiraukannya. Dadaku masih dipenuhi amarah padanya.
“Kamu hidup itu bernafaskan hutang!” suara Papa agak
meninggi. Langkahku tertahan. Aku menoleh.
“Maksud Papa?”
“Apa yang kamu maka, kamu pakai, kamu tinggali sekarang,
dari mana kalau bukan hutang?” tanya Papa menyayat hatiku.
“Tapi, Pa…”
“Papa dipecat. Bagaimana Papa membayar semua ini? Besok
rentenir akan datang menyita rumah kita” suaranya melembut. Terlihat frustasi.
Mama berusaha menenangkannya. Aku termenung dan kembali melanjutkan langkahku.
Dalam kamarku …
Aku mengepak barang-barangku. Aku tak menyangka semua ini
terjadi. Ku pecah celengan babiku. Lumayan untuk mengisi perutku beberapa hari
yang akan datang. Tiba-tiba pintu terbuka perlahan.
“Sayang… maafin Papa ya?” kata Mama lembut. Aku tersenyum.
“Hidup itu anugrah. Kita harus bersyukur dengan segala yang
ada.” Kalimatnya tertahan. Aku tertunduk, tidak berani menatap matanya yang
berkaca-kaca.
“Kamu bisa melanjutkan sekolah merupakan kebanggan besar
bagi Mama.” Lanjutnya. Untuk pertama kalinya semenjak aku remaja, aku menangis.
Hatiku luluh lantak di depan Mama. Ia memeluk dan membelaiku, kasih sayang
hangat yang selama ini aku rindukan.
***
Rumah itu, terlihat semrawut, kecil, tak terurus. Cat temboknya mulai memudar. Aku tak yakin akan betah di sana. Rumah baru di pedalaman kota, jauh dari peradaban. Aku tak punya apa-apa. Samua amblas di tangan para rentenir. Hutang pun masih menumpuk. Arggghhhh…
Mama dan Papa mulai sibuk membenahi pekarangan dan
membersihkan rumah. Keringat pilu menetes membasahi tubuh mereka. Aku pun
sibuk, sibuk dengan pikiran yang terus menghantuiku. Ku pandang jajaran pohon yang
berdiri tegak seakan menyapaku hangat. Daunnya melambai-lambai tertiup angin.
Aku suka itu.
“Keiza… Ngapain kamu? Sana bantu Mama” kata Papaku sambil
menggertakku. Aku berjalan malas dan membantunya dengan enggan,
***
“Aduh sekarang aku miskin. Tinggal di kolong jembatan. Minta-minta di perempatan jalan” cibir Ella. Deg!!! Aku menatapnya tajam. Ku dorong kursi di depannya dan pergi.
“Ehemm… Sang ratu marah” katanya lagi. Aku tak
menghiraukannya. Biar puas ia menertawakannku.
Aku berjalan dan terus berjalan. Menerobos kerumunan siswa
yang hilir mudik, berkeliaran. Aku berhenti di depan air mancur yang di
bawahnya ada sekawanan ikan-ikan kecil. Tiba-tiba kurasakan tangan hangat
menyentuh punddakku. Ia tersenyum. Zahra, sahabatku. Ia kemudian duduk di sampingku.
Aku berbeda jauh dengannya. Ia polos, sederhana, baik juga pintar. Sedangkan
aku? Urakan, bandel tapi tak kalah pintar dengannya. Tapi entah mengapa walau
seberapa bandelnya aku, ia tetap mau bersahabat denganku. –Sahabat Sejati-
“Ada kalanya daun pun berguguran, tapi daun baru akan
menggantikannya.” Katanya lembut. Aku tersenyum.
“Ra.. Aku gak tahu, apa aku masih bisa nglanjutin sekolah
apa enggak.” Kataku. Aku tertunduk, berusaha menyembunyikan air mataku.
“Za.. Kamu bisa!! Mana Keiza yang aku kenal?” aku
memeluknya. Pelukan tukus dari seorang sahabat.
“Makasih, Ra”
Tet.. Tet .. Tet ..
Bel tanda masuk berbunyi. Aku bangkit dan berjalan beriringan bersamamya.
Sekarang, aku lebih mantap menjalani hariku, hari ini.
***
Serangkaian alur kehidupan mengantarku pada hari-hari terakhirku di sekolah ini. Mengantarkanku pada kesuksesan dengan prestasi terbaik di sekolahku. Aku mendapat beasiswa ke salah satu SMA favorit di kotaku.
Kebahagiaan itu hanya sementara. Di gubuk kecilku, aku harus
berjuang mati-matian untuk bisa melanjutkan sekolah. Penghasilan orangtuaku
hanya cukup untuk membiayai makan sehari-hari. Papa sering marah-marah. Mama,
ia sakit kini dan aku harus merawatnya. Betapa berat hidupku.
***
Masa SMA-ku
Pagi hari, aku harus menjajakkan kue-kue buatan mamaku
sebelum menitipkannya di toko. Usai pulang sekolah aku harus bekerja dalam
usiaku yang baru 15 tahun ini. Menjadi penjaga toko dan baby sister cilik.
Badanku semakin kurus, karena aku hanya makan apa yang ada. Kini, aku bisa
belajar arti hidup yang sebenarnya.
Kurang lebih 3 tahun berlalu…
Masa-masa tersulit dalam hidupku telah ki lalui. Kadang aku
berfikir untuk tak ada lagi di dunia ini. Tapi, itu bukan Keiza. Keiza harus
tegar. Sampai akhirnya, ingin ku berteriak sekencang-kencangnya agar semua
orang tahu, agar dunia tahu bahwa keterbatasan tak menghalangiku mengejar
cita-cita. Aku lulus dengan nilai tertinggi. Beasiswa kembali ku raih. AKU
BISA, AKU PASTI BISA !! Aku yakin suatu saat nanti. Aku akan berkilau
menggantikan bintang di sana.
Aku melanjutkan kuliahku di Amerika dan bekerja di salah
satu perusahaan terkemuka di sana. Kini aku bahagia. Hutang-hutang yang dulu
menjerat keluargaku terbayar lunas, di usia mereka yang semakin renta. Rumahku
sederhana dengan taman kecil di depannya, hadiah kecil untuk Mama dan Papa.
Bahkan aku dapat membangun yayasan yatim piatu. Karena bagiku berbagi adalah
hal terindah.
-The End-
~Bukan yang kita miliki yang membuat kita kaya, melainkan yang dapat kita hargai dan nikmati, itulah kekayaan yang sesungguhnya~
tulisan tangan Weni Widyaningsih -Sahabat Sejati- semoga yang membaca selalu mengingat kalimat terakhir dalam cerita ini. terimaksih kau mengingatkanku ☺ tetaplah menjadi sahabatku yang selalu mengingatkanku tentang segalanya selama aku masih bisa menghirup udara di dunia yang begitu indah dengan kehadiranmu ini. thanks for being my best and the best friend ☺