Kamis, 18 Juli 2013

GOOD BYE~


GOOD BYE
“Ya Allah, berikan aku kekuatan!” ucap Safira.
“Kenapa, Ra?” Tanya Cantika dan Karina.
Safira merasa sangat sakit hati melihat kedekatan Tania dan Ratih. Belakangan ini Tania memang dekat sekali sama Ratih. Sampai-sampai Tania jarang bersama Safira. Safirapun menangis.
“Ra, nggak usah nangis. Masih ada kita di sini.” kata Cantika
“Iya Cantika, makasih ya.”
Dalam hati Safira, dia merasa benci dengan kelakuannya Rath yang sombong. Begitupun dengan Candra, Cantika, Karina, termasuk juga Amanda. Mereka semua kalau sifat Ratih itu nggak baik. Cantika pernah dibikin sakit hati, karena masalah dengan Ratih dan Dion. Cerita itu begitu panjang. Pada intinya, ratih merebut Dion dari Cantika. Tidak hanya Cantika, Fanni juga pernah dibuatnya sakit hati. Fanni menyukai Andra, tapi Andranya suka sama Ratih. Dan ternyata Ratih juga suka sama Andra. Dengan gayanya yang sok-sokan di enggak mau jujur kalau sebenarnya Ratih juga suka sama Andra. Dalam kata lain dia itu MUNAFIK. Dan kali ini korban berikutnya Safira.
“Udahlah nggak usah ngomongin hal-hal yang nggak penting kayak gini!” usul Candra.
“Herannya, kok masih banyak ya.. yang suka sama dia!?” kata Karina.
“UDAH!!!” bentak Cantika.
“Kita balik aja ke kelas. Bubar, bubar, bubar!” sambung Cantika
---
“Ting-tong.”
Suara bel yang khas dari rumahnya Cantika. Dion bermaksud untuk menemui Cantika. Ak lama kemudian, pintu terbuka.
Ech Dion, ada apa nich?”
“Ngobrol sini yuk. Aku kangen nich sama kamu!” kata Dion.
Mereka duduk di teras rumah Cantika. Dion dan Cantika asyik ngobrol bercerita banyak hal, melepas rindu antara meeka berdua. Sambil makan ice cream yang dibelinya di depan rumah Cantika. Mereka terus asyik mengobro. Setelah suasana menjadi agak tenang, Cantika mulai berbicara.
“Dan, coba lihat sarang burung itu!” sambil menunjuk ke arah sarang burung.
“Kenapa cantik? Hehehe…” tanyanya sambil senyum-senyum.
“Tadinya di situ ada burung pipitnya, tapi dia udah pergi.”
“Kamu kenapa sich Cantika?”
“Tiap kali aku duduk di sini, aku selalu nglihatin burung itu, tapi dia udah pergi. Sama kayak aku. Bentar lagi aku juga mau pergi.”
“Maksud kamu? Kamu mau pergi kemana Cantik?”
“Hari Minggu kemarin Papa Mama ditelpon sama Opaku di Medan, katanya aku disuruh pindah ke sana.”
“Kenapa nggak kamu tolak? Terus kenaa kamu baru ngomong sekarang?”
“Iya, sorry Dion. Aku nggak bisa nolak, takut menyinggung perasaan Papa, Mama, juga Opaku.”
“Aku di sini sama siapa? Temen-temen kamu gimana kalau kamu tinggalin?”
“Tolong ya, kamu jangan bilang dulu sama temen-temenku. Soalnya mereka belum tahu.”
“Iya.. OK dech” dengan suaranya yang semakin melirih.
Dengan perasaan sedih tak karuan. Dionpun akhirnya pulang meninggalkan Cantika. Dia masih tak percaya kalau Cantika, seseorang yang dicintai dan disayanginya selama ini akan pergi meninggalkannya.
---
Di bandara…
“Cantika, kenapa sich kamu harus pergi, aku sedih banget kalau kamu pergi.” kata Amanda.
“Iya can, aku masih pengen sama kamu, kita makan ice cream bareng, makan coklat bareng, jalan bareng, belajar, maen.” Sambung Fanni.
Temen-temen Cantika ikut ke bandara, tak ketinggalan juga Dion. Soalnya Cantika sudah ceita sama mereka, bahkan mereka semua ditraktir sebagai tanda perpisahan.
“Ayo Cantika, sudah hamper jam 10.00” ajak Mamanya.
“Temen-temen, maaf ya aku harus pergi. Aku akan selalu ingat sama kalian. Semua akan baik-baik aja kok.”
“Iya Cantika, jaga dirimu baik-baik ya. Sering-sering telpon!” jawab Karina.
“Walaupun jarak kita jauh, tapi cintaku gak akan pernah pudar untukmu Cantik!”
“Thanks ya semua. I LOVE YOU…”
“I LOVE YOU TOO Cantika!”
“Good Bye!!!” kata-kata Cantika yang terakhir.
“Good Bye Cantika!”
Tapi tiba-tiba Rath datang.
“Oh, aku terlambat!” kata ratih.
“Kok kamu di sini? Ngapain?” Tanya Candra dan Tania.
“Aku mau minta maaf sama Cantika, tapi aku udah telat.”
“Tadi dia sempet nitipin ini ke aku, katanya suruh ngasih ke kamu!” kata Amanda.
“Apa nih? Coba aku buka ya…!?” sambil membuka surat yang dititipin ke Amanda tadi.
Seteah surat itu dibaca, ratih menangis karena terharu. Dia merasa sangat sedih dan juga merasa bersalah. Dalam surat itu, Cantik menceritakan semuanya, yang akhirnya Ratih kini mulai mengerti.
Dalam surat itu juga, ada permintaan maaf dari Cantika.
“Cantika, seharusnya aku yang meminta maaf. Buka kamu.” kata Ratih.
“Kalaupun kamu yang minta maaf, aku yakin Cantika juga akan memaafkanmu!” jawab Amanda.
Ratih kini telah sadar dan meminta maaf kepada teman-temannya. Semuanya juga telah memaafkan Ratih.
Kemuadian… Mereka semua meninggalkan bandara.


(Fikrie Noor Aisyah 8C)
  •   SAINSTARA, SMP N 1 PLAYEN
EDISI 33 (JUNI 2011) HAL 4-5

Apakah yang kalian temukan di tulisan ini? Miahaha ini masih terlalu “4L4Y” harap maklum ya. Ini cerpen pertamaku yang di post to public. Masih awal-awal belajar nulis juga (sekarang tetep belajar). Semoga banyak yang minat membaca coretan-coretanku selama ini. Untuk yang sudah membaca, terimakasih banyak dan jangan kapok yaa xixixi. Harapan lainnya ya tentu banyak lagi pembacanya, semoga juga banyak pelajaran yang dipetik dari coretan-coretanku yang (pasti) nggak jelas.
Ohayo gozaimasu :-)