GOOD
BYE
“Ya Allah, berikan aku
kekuatan!” ucap Safira.
“Kenapa, Ra?” Tanya
Cantika dan Karina.
Safira merasa sangat
sakit hati melihat kedekatan Tania dan Ratih. Belakangan ini Tania memang dekat
sekali sama Ratih. Sampai-sampai Tania jarang bersama Safira. Safirapun
menangis.
“Ra, nggak usah nangis.
Masih ada kita di sini.” kata Cantika
“Iya Cantika, makasih
ya.”
Dalam hati Safira, dia
merasa benci dengan kelakuannya Rath yang sombong. Begitupun dengan Candra,
Cantika, Karina, termasuk juga Amanda. Mereka semua kalau sifat Ratih itu nggak
baik. Cantika pernah dibikin sakit hati, karena masalah dengan Ratih dan Dion. Cerita
itu begitu panjang. Pada intinya, ratih merebut Dion dari Cantika. Tidak hanya
Cantika, Fanni juga pernah dibuatnya sakit hati. Fanni menyukai Andra, tapi
Andranya suka sama Ratih. Dan ternyata Ratih juga suka sama Andra. Dengan gayanya
yang sok-sokan di enggak mau jujur kalau sebenarnya Ratih juga suka sama Andra.
Dalam kata lain dia itu MUNAFIK. Dan kali ini korban berikutnya Safira.
“Udahlah nggak usah ngomongin
hal-hal yang nggak penting kayak gini!” usul Candra.
“Herannya, kok masih
banyak ya.. yang suka sama dia!?” kata Karina.
“UDAH!!!” bentak
Cantika.
“Kita balik aja ke
kelas. Bubar, bubar, bubar!” sambung Cantika
---
“Ting-tong.”
Suara bel yang khas dari
rumahnya Cantika. Dion bermaksud untuk menemui Cantika. Ak lama kemudian, pintu
terbuka.
“Ech Dion, ada apa nich?”
“Ngobrol sini yuk. Aku
kangen nich sama kamu!” kata Dion.
Mereka duduk di teras
rumah Cantika. Dion dan Cantika asyik ngobrol bercerita banyak hal, melepas
rindu antara meeka berdua. Sambil makan ice cream yang dibelinya di depan rumah
Cantika. Mereka terus asyik mengobro. Setelah suasana menjadi agak tenang,
Cantika mulai berbicara.
“Dan, coba lihat sarang
burung itu!” sambil menunjuk ke arah sarang burung.
“Kenapa cantik? Hehehe…”
tanyanya sambil senyum-senyum.
“Tadinya di situ ada
burung pipitnya, tapi dia udah pergi.”
“Kamu kenapa sich Cantika?”
“Tiap kali aku duduk di
sini, aku selalu nglihatin burung itu, tapi dia udah pergi. Sama kayak aku. Bentar
lagi aku juga mau pergi.”
“Maksud kamu? Kamu mau
pergi kemana Cantik?”
“Hari Minggu kemarin
Papa Mama ditelpon sama Opaku di Medan, katanya aku disuruh pindah ke sana.”
“Kenapa nggak kamu
tolak? Terus kenaa kamu baru ngomong sekarang?”
“Iya, sorry Dion. Aku nggak bisa nolak, takut
menyinggung perasaan Papa, Mama, juga Opaku.”
“Aku di sini sama siapa?
Temen-temen kamu gimana kalau kamu tinggalin?”
“Tolong ya, kamu jangan
bilang dulu sama temen-temenku. Soalnya mereka belum tahu.”
“Iya.. OK dech” dengan suaranya yang semakin
melirih.
Dengan perasaan sedih
tak karuan. Dionpun akhirnya pulang meninggalkan Cantika. Dia masih tak percaya
kalau Cantika, seseorang yang dicintai dan disayanginya selama ini akan pergi
meninggalkannya.
---
Di bandara…
“Cantika, kenapa sich kamu harus pergi, aku sedih banget
kalau kamu pergi.” kata Amanda.
“Iya can, aku masih
pengen sama kamu, kita makan ice cream bareng, makan coklat bareng, jalan
bareng, belajar, maen.” Sambung Fanni.
Temen-temen Cantika ikut
ke bandara, tak ketinggalan juga Dion. Soalnya Cantika sudah ceita sama mereka,
bahkan mereka semua ditraktir sebagai tanda perpisahan.
“Ayo Cantika, sudah hamper
jam 10.00” ajak Mamanya.
“Temen-temen, maaf ya
aku harus pergi. Aku akan selalu ingat sama kalian. Semua akan baik-baik aja
kok.”
“Iya Cantika, jaga
dirimu baik-baik ya. Sering-sering telpon!” jawab Karina.
“Walaupun jarak kita
jauh, tapi cintaku gak akan pernah pudar untukmu Cantik!”
“Thanks ya semua. I LOVE
YOU…”
“I LOVE YOU TOO Cantika!”
“Good Bye!!!” kata-kata
Cantika yang terakhir.
“Good Bye Cantika!”
Tapi tiba-tiba Rath datang.
“Oh, aku terlambat!”
kata ratih.
“Kok kamu di sini? Ngapain?”
Tanya Candra dan Tania.
“Aku mau minta maaf sama
Cantika, tapi aku udah telat.”
“Tadi dia sempet nitipin
ini ke aku, katanya suruh ngasih ke kamu!” kata Amanda.
“Apa nih? Coba aku buka
ya…!?” sambil membuka surat yang dititipin ke Amanda tadi.
Seteah surat itu dibaca,
ratih menangis karena terharu. Dia merasa sangat sedih dan juga merasa
bersalah. Dalam surat itu, Cantik menceritakan semuanya, yang akhirnya Ratih
kini mulai mengerti.
Dalam surat itu juga,
ada permintaan maaf dari Cantika.
“Cantika, seharusnya aku
yang meminta maaf. Buka kamu.” kata Ratih.
“Kalaupun kamu yang
minta maaf, aku yakin Cantika juga akan memaafkanmu!” jawab Amanda.
Ratih kini telah sadar
dan meminta maaf kepada teman-temannya. Semuanya juga telah memaafkan Ratih.
Kemuadian… Mereka semua
meninggalkan bandara.
(Fikrie Noor Aisyah 8C)
- SAINSTARA, SMP N 1 PLAYEN
EDISI
33 (JUNI 2011) HAL 4-5
Apakah
yang kalian temukan di tulisan ini? Miahaha ini masih terlalu “4L4Y” harap
maklum ya. Ini cerpen pertamaku yang di post to public. Masih awal-awal belajar
nulis juga (sekarang tetep belajar). Semoga banyak yang minat membaca
coretan-coretanku selama ini. Untuk yang sudah membaca, terimakasih banyak dan
jangan kapok yaa xixixi. Harapan lainnya ya tentu banyak lagi pembacanya,
semoga juga banyak pelajaran yang dipetik dari coretan-coretanku yang (pasti)
nggak jelas.
Ohayo
gozaimasu :-)