PLAYSTATION
& PILIHSETIA
THE
TOPIC OF TODAY IS “LOYAL”
What is your opinion if you hear something about
“Loyality” ? Lets learn about “Loyality” deep more.
Menurut kalian definisi kata setia itu apa sih? By the way.
Di sini aku mau bahas setia secara lebih jauh, lebih dalam, lebih panjang, dan
lebih dan lebih. Untuk spesifiknya setia pada sesama.
Penting nggak sih setia itu? Sangat penting. Sebelumnya
tolong diingat saja ini hanya untuk referensi dan untuk pembelajaran aja. Apa
salahnya kalau kita belajar dulu baru mengaplikasikannya dalam kehidupan kita?
Entah dalam waktu dekat ini atau nanati. Asal jangan di waktu yang lalu ya *eh.
Beberapa hari yang lalu aku terlibat dalam perdebatan
kecil dengan “Kakak”. Usai sholat tarawih di masjid aku tak kunjung pulang.
Masih mengikuti rapat membahas beberapa susunan acara menjelang Hari Raya Idul
Fitri. Sepulangnya aku masih belum tidur, sampai hampir pukul 12 malam. Apa
yang aku lakukan? Menunggunya. Ya, hanya menunggunya.
“Kok belum tidur?”
“Masih nunggu kamu?”
“Aku mau sampai malem?”
“Ya ini udah malem!”
“Kalau ngantuk tidur aja.”
“Kalau tidur ngantuk aja.”
“Iya terserah.”
“Kok betah banget main PSnya?”
“Sama temen-temen banyak kok.”
“Sampai lupa waktu?”
“Ya enggak.”
“Sampai lupa aku?”
“Enggak.”
“Iya aja.”
“Lagi apa?”
“Lagi nunggu kamu aja.”
“Kenapa? Aku nggak nyuruh ya.”
“Nggak papa. Kesadaran sendiri.”
“Terlalu setia.”
“Masih belajar juga. Kita sama-sama belajar ya?”
“Iya. Tapi jangan terlalu.”
“Kenapa? Salah?”
“Enggak juga.”
“Ada sebabnya dong?”
“Adadeh…”
“Cerita dong?”
“Katanya remaja seperti kita masih labil.”
“Iya itu fakta bukan cuma katanya.”
“Nah itu tau.”
“Apa salahnya belajar? Yang udah nikah aja belum tentu
100% setia, apalagi yang masih labil gini?”
“Iya!”
Sudah sering sekali aku menunggunya sampai tertidur
meskipun dia pulang larut malam. Messkipun dia tak menyuruhku, tapi aku rasa
ini bentuk pengabdian. Dan pengabdian itu sendiri menurutku merupakan salah
satu langkah kita untuk belajar setia. Akhirnya terjadi lagi. Hanya gara-gara playstation saja bisa jadi membahas
setia sampai sedemikian rupa. Belum lama ini dia bilang,
“Wei ora ngerti sayangku ki koyo ngopo karo kowe.” (Kamu
nggak tahu sayangku ke kamu seperti apa)
“Kamu jangan berubah ya. Ku harap kamu bisa menerimaku apa
adanya.”
Sempat bersendu pilu juga mengingat kalimat-kalimat itu. Hiks
:’( Lalu motivasinya dia mengungkapkannya itu kepadaku apa? Ya begitulah namanya
remaja labil!
Pagi hari aku mengirim pesan ke mak comblang ku sama Kakak
dulu untuk yang pertama kalinya ada hubungan khusus *cieeeaaaa* yang kemarin
mengirim pesan ke aku dan belum sempat terbalas. Apa yang dia ceritakan? Ya
intinya tentang kesetiaan juga! Sebenarnya dia salah tempat atau tidak ya kalau
dia meminta saran dari aku tentang kebimbangannya selama ini? Lupakan~ Andaikan
aku berbakat jadi psikolog, aku pasti jelasin ke kamu panjang lebar. Tapi
untung saja belum ada bakat (mungkin) bersenanglah kamu tidak jadi aku sembur.
Aku hanya berpesan kepadanya agar hati-hati dalam bersikap pada siapapun yang
saat ini menjadi orang-orang penting dalam hidupnya. Apapun keputusan yang akan
dia ambil itu hak dia, aku hanya berhak untuk memberikan masukan-masukan
untuknya. Dan dia juga harus setia dengan apa yang telah dia pilih dalam
keputusannya itu. Jangan sampai mempermainkan kesetiaan yang akhirnya akan
menjadi bumerang dalam hidupnya sendiri.
Malam berikutnya, dia absen maen playstation. Alhamdulillah~ Aku manfaatin untuk sekedar
berbincang-bincang by phone. Dan di
malam berikutnya akhirnya aku menunggunya lagi. Daripada waktu terbuang sia-sia
aku manfaatkan aja buat nyari referensi tentang arti kata setia. Tanya mbah google? Jangan lah, itu bagian
akhir-akhir aja.
Yang pertama adalaaaaaah, siapa ya? Ini diaaa Kak Anindya
Roswita. Alumni SMA N 2 Wonosari tahun 2012/2013 (dulu kakak kelasku, haha)
“Setia itu apa mbak?”
“Setia itu bertahan, udah itu aja.”
“Udah gitu aja?”
“Iya setia itu berarti bertahan. Setia sama Tuhan, janji,
pekerjaan, berarti bertahan di jalan yang udah kita ambil.”
Yang kedua ada pendapatnya Riya Hiday, sahabat baruku yang
aku kenal dari Kakak.
“Setia itu apa sih?”
“Bisa ngejalanin tapi bsa nyakitin.”
“Kok bisa gitu. Cerita pengalaman sendiri ya?”
Yang ketiga ada pendapatnya Weni Widya, sahabatku dari
sini sampai nanti.
“Setia itu apa ya?”
“Aku bukan orang setia tuh?”
“Ya siapa tahu punya gambaran?”
“Setia itu mirip istiqomah”
Yang keempat dari kak Vinda, aku dapet dari social media, twitter.
“Setia itu mengerti.”
Yuhuuuu~ bagus sekali jawaban-jawabannya. Tidak ada yang
salah ya, yang salah yang tidak mau berpendapat. Eh enggak ding.
Menurut pikiran saya sendiri setia adalah pilihan. Kalau
kita setia bererti kita telah memilih suatu langkah untuk mengubah hidup kita
menjadi manusia yang lebih konsisten. Perlu diketahui setia merupakan perasaan
seseorang yang dikontrol oleh emosionalnya sendiri. Ketika kita mulai belajar
setia itu berarti bahwa kita juga belajar bertanggung jawab atas pilihan kita
dan siap menerima konsekuensinya. Menurut sumber yang saya dapatkan :
Setia : berpegang teguh.
Setia : menetap.
Setia : Berkomitmen dengan pikiran.
Setia : Bertindak sesuai hati.
Nah setelah mengetahui arti-arti kata setia, ada baiknya
kita mengaplikasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari ya. Jangan bilang
tidak bisa sebelum mencoba. Belum terlambat!
Mulailah dari hal yang kecil untuk
mendapakan sesuatu yang kau anggap besar.
Menjadi orang yang setia itu tidak mudah. Membutuhkan
perjalanan yang sangat panjang jika tidak dimulai dari sekarang. Butuh
pengorbanan yang bisa dibilang itu “nggak gampang”.
Dari pendapat-pendapat di
atas sudah cukup jelas juga ya. Setia itu bisa nyakitin. Memang. Ketika kita
mulai belajar tentang apa itu setia, kita harus berani merasa tersakiti.
Tersakiti karena orang lain, karena ulah kita sendiri juga bisa. Tapi apapun
itu, kita harus bisa menanggung semua resiko jika kita sudah berani tersakiti
demi kesetiaan. Jadi kita harus menanamkan sikap setia dari dalam diri kita
sendiri.
Sudah saya tekankan dari awal tadi, jangan main-main
dengan kesetiaan. Kalian tahu kan siapa Fatin Sidqia Lubis? Itu lho yang jadi
finalis master chef Indonesia 3! Bukan, bukan, bukan. Pemenang X-Factor
Indonesia pertama cuy. Jangan salah. Dia aja memilih setia. Iya kan ya? So,
buat Fatinistic seluruh Indonesia, jangan lupa dukung Fatin ya! *plak* Maksudnya
jangan lupa jadi Fatinistic yang setia.
~Belajarlah menjadi manusia yang setia terhadap hal apapun yang dapat membuat hidup lebih berarti untuk diri sendiri dan juga orang lain. (❁´◡`❁)
~Learn to be a faithful man to any thing that can make life more meaningful for themselves and others. (❁´◡`❁)
Baik ini dulu wejangannya untuk malam ini. Saya menulis
ini hanya untuk mengisi kekosongan saja. Konbanwa, oyasuminasai :)


