Senin, 05 Agustus 2013

PLAYSTATION & PILIHSETIA


PLAYSTATION & PILIHSETIA
THE TOPIC OF TODAY IS “LOYAL”

What is your opinion if you hear something about “Loyality” ? Lets learn about “Loyality” deep more.

Menurut kalian definisi kata setia itu apa sih? By the way. Di sini aku mau bahas setia secara lebih jauh, lebih dalam, lebih panjang, dan lebih dan lebih. Untuk spesifiknya setia pada sesama.

Penting nggak sih setia itu? Sangat penting. Sebelumnya tolong diingat saja ini hanya untuk referensi dan untuk pembelajaran aja. Apa salahnya kalau kita belajar dulu baru mengaplikasikannya dalam kehidupan kita? Entah dalam waktu dekat ini atau nanati. Asal jangan di waktu yang lalu ya *eh.

Beberapa hari yang lalu aku terlibat dalam perdebatan kecil dengan “Kakak”. Usai sholat tarawih di masjid aku tak kunjung pulang. Masih mengikuti rapat membahas beberapa susunan acara menjelang Hari Raya Idul Fitri. Sepulangnya aku masih belum tidur, sampai hampir pukul 12 malam. Apa yang aku lakukan? Menunggunya. Ya, hanya menunggunya.

“Kok belum tidur?”
“Masih nunggu kamu?”
“Aku mau sampai malem?”
“Ya ini udah malem!”
“Kalau ngantuk tidur aja.”
“Kalau tidur ngantuk aja.”
“Iya terserah.”
“Kok betah banget main PSnya?”
“Sama temen-temen banyak kok.”
“Sampai lupa waktu?”
“Ya enggak.”
“Sampai lupa aku?”
“Enggak.”
“Iya aja.”
“Lagi apa?”
“Lagi nunggu kamu aja.”
“Kenapa? Aku nggak nyuruh ya.”
“Nggak papa. Kesadaran sendiri.”
“Terlalu setia.”
“Masih belajar juga. Kita sama-sama belajar ya?”
“Iya. Tapi jangan terlalu.”
“Kenapa? Salah?”
“Enggak juga.”
“Ada sebabnya dong?”
“Adadeh…”
“Cerita dong?”
“Katanya remaja seperti kita masih labil.”
“Iya itu fakta bukan cuma katanya.”
“Nah itu tau.”
“Apa salahnya belajar? Yang udah nikah aja belum tentu 100% setia, apalagi yang masih labil gini?”
“Iya!”

Sudah sering sekali aku menunggunya sampai tertidur meskipun dia pulang larut malam. Messkipun dia tak menyuruhku, tapi aku rasa ini bentuk pengabdian. Dan pengabdian itu sendiri menurutku merupakan salah satu langkah kita untuk belajar setia. Akhirnya terjadi lagi. Hanya gara-gara playstation saja bisa jadi membahas setia sampai sedemikian rupa. Belum lama ini dia bilang,

“Wei ora ngerti sayangku ki koyo ngopo karo kowe.” (Kamu nggak tahu sayangku ke kamu seperti apa)
“Kamu jangan berubah ya. Ku harap kamu bisa menerimaku apa adanya.”

Sempat bersendu pilu juga mengingat kalimat-kalimat itu. Hiks :’( Lalu motivasinya dia mengungkapkannya itu kepadaku apa? Ya begitulah namanya remaja labil!

Pagi hari aku mengirim pesan ke mak comblang ku sama Kakak dulu untuk yang pertama kalinya ada hubungan khusus *cieeeaaaa* yang kemarin mengirim pesan ke aku dan belum sempat terbalas. Apa yang dia ceritakan? Ya intinya tentang kesetiaan juga! Sebenarnya dia salah tempat atau tidak ya kalau dia meminta saran dari aku tentang kebimbangannya selama ini? Lupakan~ Andaikan aku berbakat jadi psikolog, aku pasti jelasin ke kamu panjang lebar. Tapi untung saja belum ada bakat (mungkin) bersenanglah kamu tidak jadi aku sembur. Aku hanya berpesan kepadanya agar hati-hati dalam bersikap pada siapapun yang saat ini menjadi orang-orang penting dalam hidupnya. Apapun keputusan yang akan dia ambil itu hak dia, aku hanya berhak untuk memberikan masukan-masukan untuknya. Dan dia juga harus setia dengan apa yang telah dia pilih dalam keputusannya itu. Jangan sampai mempermainkan kesetiaan yang akhirnya akan menjadi bumerang dalam hidupnya sendiri.

Malam berikutnya, dia absen maen playstation. Alhamdulillah~ Aku manfaatin untuk sekedar berbincang-bincang by phone. Dan di malam berikutnya akhirnya aku menunggunya lagi. Daripada waktu terbuang sia-sia aku manfaatkan aja buat nyari referensi tentang arti kata setia. Tanya mbah google? Jangan lah, itu bagian akhir-akhir aja.

Yang pertama adalaaaaaah, siapa ya? Ini diaaa Kak Anindya Roswita. Alumni SMA N 2 Wonosari tahun 2012/2013 (dulu kakak kelasku, haha)

“Setia itu apa mbak?”
“Setia itu bertahan, udah itu aja.”
“Udah gitu aja?”
“Iya setia itu berarti bertahan. Setia sama Tuhan, janji, pekerjaan, berarti bertahan di jalan yang udah kita ambil.”
Yang kedua ada pendapatnya Riya Hiday, sahabat baruku yang aku kenal dari Kakak.

“Setia itu apa sih?”
“Bisa ngejalanin tapi bsa nyakitin.”
“Kok bisa gitu. Cerita pengalaman sendiri ya?”
Yang ketiga ada pendapatnya Weni Widya, sahabatku dari sini sampai nanti.

“Setia itu apa ya?”
“Aku bukan orang setia tuh?”
“Ya siapa tahu punya gambaran?”
“Setia itu mirip istiqomah”
Yang keempat dari kak Vinda, aku dapet dari social media, twitter.
“Setia itu mengerti.”

Yuhuuuu~ bagus sekali jawaban-jawabannya. Tidak ada yang salah ya, yang salah yang tidak mau berpendapat. Eh enggak ding.

Menurut pikiran saya sendiri setia adalah pilihan. Kalau kita setia bererti kita telah memilih suatu langkah untuk mengubah hidup kita menjadi manusia yang lebih konsisten. Perlu diketahui setia merupakan perasaan seseorang yang dikontrol oleh emosionalnya sendiri. Ketika kita mulai belajar setia itu berarti bahwa kita juga belajar bertanggung jawab atas pilihan kita dan siap menerima konsekuensinya. Menurut sumber yang saya dapatkan :
Setia : berpegang teguh.
Setia : menetap.
Setia : Berkomitmen dengan pikiran.
Setia : Bertindak sesuai hati.

Nah setelah mengetahui arti-arti kata setia, ada baiknya kita mengaplikasikannya dalam kehidupan kita sehari-hari ya. Jangan bilang tidak bisa sebelum mencoba. Belum terlambat! 
Mulailah dari hal yang kecil untuk mendapakan sesuatu yang kau anggap besar.
Menjadi orang yang setia itu tidak mudah. Membutuhkan perjalanan yang sangat panjang jika tidak dimulai dari sekarang. Butuh pengorbanan yang bisa dibilang itu “nggak gampang”. 

Dari pendapat-pendapat di atas sudah cukup jelas juga ya. Setia itu bisa nyakitin. Memang. Ketika kita mulai belajar tentang apa itu setia, kita harus berani merasa tersakiti. Tersakiti karena orang lain, karena ulah kita sendiri juga bisa. Tapi apapun itu, kita harus bisa menanggung semua resiko jika kita sudah berani tersakiti demi kesetiaan. Jadi kita harus menanamkan sikap setia dari dalam diri kita sendiri.

Sudah saya tekankan dari awal tadi, jangan main-main dengan kesetiaan. Kalian tahu kan siapa Fatin Sidqia Lubis? Itu lho yang jadi finalis master chef Indonesia 3! Bukan, bukan, bukan. Pemenang X-Factor Indonesia pertama cuy. Jangan salah. Dia aja memilih setia. Iya kan ya? So, buat Fatinistic seluruh Indonesia, jangan lupa dukung Fatin ya! *plak* Maksudnya jangan lupa jadi Fatinistic yang setia.


~Belajarlah menjadi manusia yang setia terhadap hal apapun yang dapat membuat hidup lebih berarti untuk diri sendiri dan juga orang lain. (´`)

~Learn to be a faithful man to any thing that can make life more meaningful for themselves and others. (´`)


Baik ini dulu wejangannya untuk malam ini. Saya menulis ini hanya untuk mengisi kekosongan saja. Konbanwa, oyasuminasai :)