SOSOK TERANG DALAM KEGELAPAN
TUGAS BAHASA INDONESIA
Disusun Oleh :
Fikrie Noor Aisyah (09/9c)
PEMERINTAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL
DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA
SMP N 1 PLAYEN TAHUN PELAJARAN 2011/2012
Persiapan Menulis Cerpen
- Peritiwa Pilihan
- Tema
- Tokoh dan Watak
- Aku (Ayta/Tata) : cengeng,baik, jail
- Fidia : periang, penyabar, baik hati
- Sabrina : perhatian, cuek, baik
- Bunda : perhatian, penyayang
- Ayah : perhatian, pendiam, ramah
- Uti : penyayang
- Setting
- Latar Tempat :
Rumahku
Rumah Kak Afifa
Halaman Masjid Al-Ikhlas
Sekolah
Rumah Om Arif
- Latar waktu :
Siang hari
Malam hari
Sore hari
- Latar suasana :
Mengharukan
Menyedihkan
Menyenangkan
- Urutan Cerita
- Kecelakaan yang kualami bersama Fidia kemudian mengantar Ibu Indah ke rumah sakit.
- Mengukir kenangan manis di rumah Kak Afifa
- Mengantar ayah ke Masjid Al-Ikhlas
- Aku menangis di sekolah
- Berkunjung ke rumah Om Arif
SOSOK TERANG DALAM KEGELAPAN
Oleh : Fikrie Noor Aisyah
Degup jantungku semakin kencang, kencang, dan kencang.Pikirku melayang-layang seperti terombang-ambing. 1 hal aku memikirkan keadaan Ibu Indah yang sedang dalam ruang perawatan, 1 hal aku memikirkan bagaimana biaya pemeriksaan Ibu Indah , dan 1 hal lagi aku harus menyembunyikan ini sama ayah dan bunda atau aku harus membicarakannya? Dalam hati aku selalu berdoa memintakan petunjuk Allah, memohon agar semua baik-baik saja.
Aku terus mengamati pergerakan jarum jam tanganku. Fidia tak berani melontarkan kata-kata dari mulut munggilnya.Aku tahu, dia sangat bingung, khawatir, dan juga merasa bersalah.Tetapi yang aku tahu, Fidia anak yang baik, ramah, periang, dan satu lagi, sabar.Dia memandang layar HPnya.Kemudian dia menghubungi kakaknya.Untung saja kakaknya di rumah.
Tak lama kemudian kakak Fidia datang bersama ayahnya.Keluarga dari Ibu Indah juga mulai berdatangan, termasuk suaminya, Pak Gandhi.Setelah Ibu Indah dipindah ruangan untuk diopname dan Pak Gandhi sudah menjenguknya, kemudian Pak Gandhi keluar menemui Ayahnya Fidia.
“ Apapun yang dikatakan Pak Gandhi kita terima saja dengan ikhlas” bisikku pada Fidia. Dia tersenyum melihatku, akupun membalasnya.
Kami mendengar setiap kata yang diucapkan Pak Gandhi.Sesudah ayah Fidia menjelaskan ini itu, akhirnya Pak Gandhi memutuskan untuk menyelesaikan masalah dengan kekeluargaan dan pihak dari Fidia juga tidak perlu mengganti semua biaya di rumah sakit.Lagian Fidia juga tidak salah.Sempat kudengar ada seseorang mengatakan “Sudah di sini kita tidak mencari siapa yang salah dan siapa yang benar”.Yah memang benar begitu.Betapa senangnya aku mendengar keputusan Pak Gandhi tadi “Ya Allah teimakasih, Kau telah mengabulkan doa-doaku dalam hati” ucapku lirih.Aku memberikan kabar ke teman-teman. Oh ada SMS masuk.Aku segera membukanya.
Mndingn km trs trng aj Ta sm orangtuamu. Daripada ntr mlah dger dri org lain.
SMS dari Sabrina. Dia perhatian sekali sama aku, kejadian sekecil apapun yang kualami diatau. Sabrina sahabat yang baik, dia tak pernah menyakiti perasaanku.Sama juga seperti Fidia, mereka selalu ada saat aku lagi butuh mereka. Eh tapi kalau nanti aku bilang sama orangtuaku, mau jadi apa aku? Kripik kentang????
***
Ternyata kedatanganku sudah disambut Uti yang duduk bersama Akbar adikku di teras rumah. “Masyaallah. . .” udah nggak bisa ngelak lagi ini. Uti tau aku dianter sama kakaknya Fidia, yah mau nggak mau aku harus cerita.
“Diantar sama siapa itu?” Tanya Uti.
“Itu kakanya Fidia” jawabku singkat.
“Kok bisa?” tanyanya lagi.
Kemudian aku menjelaskan kejadian tadi, nggak ada yang dikurangin dan nggak ada juga yang di tambahin.
“Ya syukurlah kamu tidak kenapa-kenapa. Tapi hati-hati sekarang kamu sudah kelas 9”
“Iya Ti, Tata juga tahu”
“Masuk dan sholat dulu sana. Jangan lupa makan juga” kata Uti
Wajahku terlihat lesu dan memelas. Yah memang aku sangat capek.
***
“Ta..Ayta” panggi Bunda.Aku hanya mendengar samar-samar. Rasanya susah mau membuka kelopak mata. Begitu letih dan tak berdaya.Seperti masih di alam bawah sadar.Bunda masuk ke kamarku dan membangunkanku.
“Kok masih tidur Ta?” Tanya Bunda.
“Hah? Apa Bun?”
“Nggak dengar ayah SMS kamu?” sambil menunjukkan layar HP ke wajahku.
“Yaelah Bunda, HPku disilent” sambil tersenyum-senyum
Semua sudah bersiap-siap, tapi Akbar belum juga datang. Udah jam segini pula. Kami duduk-duduk di ruang tamu, kemudian Uti malah membicarakan tentang kejadian tadi. Aduh… Sebenarnya aku nggak pengen ayah tau, nanti malah jadi ngebebanin dia. Kalau bunda sih nggak masalah.Tapi kasian ayah, mau pergi jauh nanti malah jadi kepikiran ini. Hmm, beberapa hari lagi ayah mau berangkat ke tanah suci untuk menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim.
Mendengar cerita uti, ayah hanya terdiam.Hanya mengajukan beberapa pertanyaan saja, itupun juga pertanyaan yang biasa. Ayah memang pendiam orangnya. Tapi dibalik itu semua ayah juga keras.Akbar sering dimarahinsama ayah, kalau aku malah nggak pernah.Dan satu hal yang aku kagumi dari sosok ayah yaitu keramahannya terhadap semua orang. Keikhlasan hatinya membantu orang yang sedang kesusahan,sesulit dan seberat apapun juga.Selain itu, ayah juga pandai membuat lelucon. Ayah seperti mentari yang menyinariku sepanjang waktu. Seperti lilin yang menerangiku dalam kegelapan.Maka kusebut ayahku dengan sosok penerang dalam kegelapan.Setiap kali ada masalah, aku selalu mengingat ayah. Dan itu membuatku jadi lupa akan masalah yang kualami. Ayah mengajarkanku banyak hal, dari kecil hingga sekarang. Aku sayang sama ayah.
Setelah Akbar sampai di rumah dan sudah siap juga semuanya, kami pergi ke rumah Kak Afifa.
***
“Kamu itu, kalah aja mau nantang” jawab ayahku.
Kami semua langsung tertawa.Ayah Kak Afifa punya 3 kolam ikan.Sore itu matahari masih tersenyum, dia masih memancarkan sinarnya.Membuat kita menikmati suasana ini.Tapi, kini tiba saaatnya mentari menyembunyikan sinarnya. Malam pun menyambut hangat kebersamaan kita ditemani suara jangkrik, dan hewan-hewan lain. Semua diam jadi terasa makin sepi. Aku mau ngusilin Akbar ah. . .
“Plung” aku melempar kerikil kecil di sekitar umpan Akbar. Kalau aku nglempar kerikil kan nanti jadi ada kaya bekas-bekasnya gitu. Biar dikira ada ikan yang makan umpannya.Pengan segera pancingnya ditarik, eh nggak ada.Hahaha aku tertawa terbahak-bahak.
“Kenapa Bar? Nggak ada ya?” tanyaku ke Akbar
“Iya nih” jawabnya
“Ya jelas lah, orang yang bikin garis-garis di air itu aku tadi nglempar batu kecil kok” kataku sambil senyam-senyum.
“Ah Kak Tata rusuh amat, awas yah nanti nggak boleh makan! Oh cemburu a gara-gara nggak bisa mencing?” ledek Akbar
“Yeee. Bisa aja, nggak tau sih lu :p” balasku
“Coba kalau bisa, tangkepin 1 ikan aja”
Aku mau jail lagi deh.Aku duduk di samping ayah, wah kebetulan banget. Ayah pergi nggak tau tadi kemana, ahaa aku tuker aja pancingnya. Dan… dapet deh seekor ikan nila, besar juga sih. Kasih tau Akbar ah.
“Bar udah dapet nih. Gede lagi” kataku sambil senyum-senyum sendiri.
“Wah Kak Tata ternyata hebat juga. Lebih gede dari yang kutangkap tadi” puja Akbar
Tiba-tiba ayah sudah datang dan melihat pancingnya. “Loh kok pancingnya beda sama tadi yang dipake ayah?” o’o ketauan deh.
“Ini pancingnya ayah bukan?”Tanya Akbar sambil menunjukkan pancing yang aku pegang.
“Iya itu pancing ayah” jawab ayah.Hahaha aku tertawa sepuas-puasnya.Semua beban terasa lepas dari pikiranku.Malam ini mungkin malam terakhir aku dan ayah bercanda tawa, sebelum ayah kembali lagi.Yah di sinilah tempatnya, di rumah Kak Afifa.
***
Tetes demi tetes, air mata kujatuhkan.Kubiarkannya berkeliaran di pipiku.Ini adalah tanda bahwa aku merasa sangat kehilangan ayah. Aku merasa senang, karena ayah bisa pergi mengerjakan kewajibannya, tapi di satu sisi aku sedih. Aku juga tahu, apa yang dirasakan ayah pasti sama juga seperti apa yang aku rasakan. Ini kado terindah untuk ayah.Hari rabu kemarin ayah ulang tahun yang ke-37, waw.
Tetangga banyak yang datang ke rumah, mengucapkan selamat jalan untuk ayah.Ternyata kalau orang yang ramah dan senang berbagi itu memang disukai banyak orang.Contohnya itu ayah, yeah.Ayah mulai berpamitan, satu per satu berjabat tangan dengan ayah. Kemudian ayah juga mengucapkan kata pamit dan tak lupa memintakan do’a semoga kelak menjadi haji yang mabrur, selamat dalam perjalanan, dan bisa berkumpul lagi dengan keluarga.Saat ayah berpamitan denganku, tak terasa airmata mulai membasah pipiku.Aku langsung memeluk ayah dengan erat.Sungguh ku merasakan kehangatan sosok ayah.Dia yang selama ini menjagaku dan melindungiku, kini harus pergi jauh. Ayah meninggalkan sebuah pesan untukku. “Adik dijaga baik-baik ya, diajak belajar terus, dan jangan ninggin sholatnya”.Mendengar kata-kata itu, hatiku bergetar. Ayah benar, selama ini aku masih terlalu cuek dan judes sama Akbar.Malahan aku sering bertengkar dengannya cuma karna masalah sepele.Aku tak bisa berbicara.Rasanya tak ingin kumelepas pelukanku dari ayah. Tapi sebentar lagi ayah akan berangkat dan itu berarti aku harus melepaskannya.
Sampai di masjid ayah langsung berkumpul dengan kelompoknya.Para pengantar hanya diperbolehkan duduk-duduk di halaman masjid.Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 dan itu saatnya ayah mulai bergegas meninggalkan tempat ini.Berdesak-desakan diantara banyak orang membuatku gerah dan kepanasan.Tapi itu semua ikhlas kulakukan untuk melihat ayah yang terakhir kalinya sebelum ayah pergi.Kebetulan sekali ayah memasuki bus pada urutan pertama.Aku mencari-cari dimana ayah, dan tak lama kemudian ayah muncul bersama rekannya.Melihat ayah yang berjalan cepat Akbar langsung menangis, tak tahu kenapa juga.Padahal tadi di rumah dia tidak terlihat sedih.“Jangan nangis lagi ya. Ayah pergi dulu” kata ayah. Semakin ayah jauh melangkah meninggalkan kami, semakin aku dan Akbar menangis.Aku bersandar di bahu Bunda, menumpahkan sebanyak-banyaknya air mataku.Detik kemudian, Bunda memelukku.dalam keramaian seperti ini, aku masih saja merasa sepi. Yah… aku merasa kesepian ditinggal ayah.Mulai sekarang aku harus menjalani hari tanpa ayah.Ada yang bilang kalo aku itu anak bapak terus Akbar anak ibu. Bener juga sih, tapi bagiku sama aja.
***
“Nggak papa kok Bu’ lagi ada sedikit masalah saja” jawabku.
“Mau berbagi dengan saya?” tanyanya lagi.
“Mmm, mungkin enggak Bu” jawabku
“Yakin nggak mau?” aku hanya mengangguk. Dan segera menghapus air mataku.
“Kalo soal diputusin pacar aja nggak usah nangis mbak. Cari lagi kan gampang.
Yaelah bu guru tu nggak tau nggak usah ikut campur deh, pake nyangkut-nyangkut pacar segala lagi.Hari ini benar-benar hari yang membuatku tak bersemangat.
Fidia. Yah Fidia…. Aku menunggu kedatangannya.Sering kali, setiap aku menangis aku mencari keberadaannya.Pundaknya selalu kujadiakan sandaran setiap kali aku menangis.‘Peri Curhatku’ sejak pertama aku menjalin kedekatan dengan Fidia aku sudah memberikan julukan itu padanya. Dia berbeda dari sahabat-sahabat yang lain. Aku merasa sangat nyaman di sampingnya. Setiap aku punya masalah aku selalu cerita sama dia. Dan semua beban juga terasa hilang begitu saja. Belum pernah aku menemukan sahabat seperti itu.Tiba-tiba Fidia datang dan menghampiriku.
“Kamu kenapa Ta? Jangan nangis dong”
“Lha kamu itu dari mana Fid?” aku nanya balik sama Fidia
Bel istirahat berbunyi.Semua siswa berhamburan keluar nggak pake aturan. Maklum saja saat itu sedang jam kosong, gurunya nggak masuk ada acara mendadak.Begitu juga dengan aku dan Fidia.Kesunyian menyelimuti hatiku.Aku merasa semua hilang entah kemana.Di saat-saat aku sedang sedih yang kulihat mereka tak ada di sempingku, mereka hanya sekedar menghiburku.Tak ada perhatian untukku. Memang apa salahku ini? Aku mencoba selalu ada saat mereka sedang kesusahan.Tapi kenapa aku sedang sedih mereka malah menghilang?L
***
Dimana akan ku cari
Aku menangis seorang diri
Aku slalu ingin bertemu
Untukmu aku bernyanyi
Untuk ayah tercinta
Aku ingin bernyanyi
Walau air mata di pipiku
Ayah dengarkanlah
Aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi
Lihatlah hari berganti
Namun tiada seindah dulu
Datanglah aku ingin bertemu
Untukmu aku bernyanyi
- TAMAT -