Bukan Dia Tapi Aku
Tidak terasa makanan dan minuman kami habis, sekarang tinggal bayar ke kasir. Saat aku beranjak berdiri tiba-tiba dari belakang ada yang menumpahkan minumannya ke pundakku. Alhasil jilbabku basah dan kotor.
“Upsss maaf ya Salsabila nggak sengaja nih” kata Dayinta dangan nada mengejekku.
“Oh ya nggak papa Day” jawabku agak kesal.
“Sini aku bersihin Bil” rayu Dayinta
“Nggak usah kamu pergi aja sana. Lagian cuma gini doang”
“Kamu tu ya mau dibantuin nggak mau malh ngusir segala. Apa sih mau kamu?” sambil mendorongku.
“Kamu yang maunya apa? Kalo nggak mau diusir nggak usah nyari gara-gara pake nyiram minuman segala. Permisi” Aku langsung membayar ke kasir dan pergi dengan Alisa meninggalkan Dayinta CS.
“Dasar kamseupay! Tunggu aja balasanku. Anak kampung aja blagu kamu, harga dirinya dimana sih? Iuuuhhh” teriaknya
Semua seisi warung menatap Dayinta dan teman-temannya yang tertawa terbahak-bahak setelah perkataan yang dilontarkan Dayinta tadi. Mendengar itu aku langsung menoleh ke belakang dan tersenyum. Yah lebih baik senyum daripada aku memperhatikan dia dan kembali ke warung itu, marah-marah nggak jelas. Buang-buang waktu dan tenaga. Dalam hatiku “Kapanpun balasanmu datang aku siap Dayinta. Aku nggak takut”
Brrrukkk…..
“Bila.. kenapa lagi sih ? Jilbab kamu kotor tuh” gara-gara aku nengok ke belakang tadi, nggak liat depan eh nabrak Bayu.
“Nanya aja sama Alisa. Huh” jawabku sambil mendegus kesal.
“Kenapa Al tuh anak ? Kok malah nglipet mukanya”
“Dayinta CS bikin ulah lagi Bay. Numpahin es ke jilbabnya tuh makanya kotor” jawab Alisa
“Keterlaluan. Emang kamu punya salah apa sih Bil sama dia?”
“Ya manaku tahu. Ini udah yang kesekian kalinya Bay, aku udah nyoba sabar. Tapi dia selalu nglunjak. Aku nggak ngerti kenapa sikapnya kaya gitu”
“Udah nggak usah marah-marah gitu cantiknya ilang lho. Biarin aja Dayinta nggak usah dipikirin. Eh duduk sini yuk”
“Bil , Bay aku kesana bentar ya” pamit Alisa
“Jangan lama-lama Al bentar lagi kita ada kelas”
Aku dan Bayu duduk berdua di bangku taman yang luas ini. Bukan kali pertamanya, kalau ada waktu kita bertiga sering maen ka taman ini. Biasalah nyari hiburan biar nggak suntuk di rumah terus-terusan. Taman ini sekaligus menjadi saksi bisu tentang hubunganku dengan Bayu. Pertama kita bertemu di taman ini, dan dia memintaku jadi kekasihnya juga di taman ini.
“Bil aku mau kasih kamu sesuatu nih” sambil menyodorkan sesuatu yang dibungkus rapi dengan kertas kado warna biru muda dan nggak lupa dengan pita biru juga. Aku langsung menerima dan membukanya. Senyum bahagia pun menghisai wajahku lagi.
“Bayu
“Kemaren tanteku pulang umroh bawa ini terus aku suruh milih, katanya suruh ngasih kamu gitu. Bagus nggak pilihanku?”
“Jadi nggak enak nih. Bagus kok, banget malah. Bay kok pas banget sih, warnanya juga mecing lagi sama bajuku, skyblue”
“Takdir itu Bil, tandanya kita jodoh. Haha”
“BTW makasih banget ya Bay.. Dipake nanti boleh kan?” sambil senyum-senyum
“UR welcome. Pasti tambah cantik deh nanti kalau pake ini” goda Bayu
“Bilaaaa..” Teriak Alisa dari kejauhan
“Cantik banget jilbabnya Bil. Mau dong” kata Alisa sambil mlongo liat jilbab ini.
“Lah ini cuma dikasih Bayu” kataku sambil melet
“Buat aku mana Bay. Ah kamu lupa sama adek”
“Sory Al aku kemaren Cuma ambil 1 itu doang”
“Wuuu.. Yaudah eskrimnya buat aku aja deh”
“Eittss iya iya Al besok aku mintain lagi sama tante. Sekarang mana eskrimnya?”
“Awas kalo boong ya. Nih buat kalian berdua” sambil mengulurkan eskrim ke Bayu dan Bila.
“Makasih Alisa sayang kamu baek deh” kata Bila
—
Malam yang kelabu ini aku dirumahnya Alisa. Maksud kedatanganku mau ngeluarin semua uneg-uneg di hati aku. Soal sikap Bayu yang mulai aneh. Dia nggak pernah nemuin aku lagi di taman. Jarang komunikasi juga. Setiap ketemu di kampus dia selalu menghindar. Sampe aku liat Bayu berduaan sama Dayinta di perpustakaan. Hampir 2 minggu kemarin dia nggak pernah ngajak aku keluar lagi. Waktu aku memintanya nemenin aku pergi ke toko buku dia bilang lagi ada acara. Eh dia jalan sama Dayinta. 2 hari aku nyuruh dia nemenin juga beli kado buat Mama dia nggak bales sms aku, nggak angkat telfon aku. Waktu aku nyari kado di mall sama Alisa di gandengan sama Dayinta. Perubahan sikap yang drastis bukan? Aku sengaja nggak ngomong sama Bayu. Aku pengen kalau Bayu bener-bener nggak mau sama aku lagi dan milih Dayinta dia ngomong sejujurnya di depan aku secepat mungkin. Rasanya aku digantung. Aku nggak nyangka Bayu bakal kayak gini sama aku. Bayu yang selama ini support aku, selalu ada saat aku butuh dia, yang ngingetin aku buat ini itu, selalu menerima kekuranganku kini hilang. Airmata mulai menetes. Aku ingin berlari mencari sebuah kebenaran, mencari kisah yang dulu pernah terukir antara aku dan Bayu. Mengingat manisnya janji yang pernah kami ucapkan. Mengingat canda tawa yang mengisi lika-liku hidupku. Pengen marah, tapi nggak bisa. Mungkin rasa cinta ini terlalu besar untuk Bayu dan akupun lagi-lagi hanya terdiam ketika Bayu mengkhianatiku. Bayang-bayang Bayu selalu ada di mataku. Aku hanya bisa berdoa semoga Bayu cepat kembali. Aku harus kuat dan sebisa mungkin harus mempertahankan hubunganku dengan Bayu. Tetapi kalau akhirnya dia membuka mulutnya dan berbicara bahwa dia memang mencintai Dayinta, aku ikhlas asalkan Bayu bahagia.
“Allah nggak ngasih cobaan diluar kemampuan hamba-Nya Bil. Aku yakin Bayu masih butuh kamu, dia masih cinta kamu”
“Tapi sikapnya menunjukkan seolah-olah dia nggak butuh aku dan dia mulai jatuh cinta sama Dayinta?”
“Aku yakin Bayu punya alasan Bil. Kamu yang sabar aja. Bayu cuma buat kamu, nggak lama lagi pasti dia kembali” Kemudian Alisa tersenyum dan mengusap airmataku yang sedari tadi keluar. Sedetik kemudian Alisa bersenandung kecil
Ku akui sungguh beratnya
Meninggalkanmu yang dulu pernah ada
Namun harus aku lakukan
Karena ku tahu ini yang terbaik
Ku harus pergi meninggalkan kamu
Yang telah hancurkan aku
Sakitnya, sakitnya, oh sakitnya
Cintaku lebih besar darinya
Mestinya kau sadar itu
Bukan dia, bukan dia, tapi aku
Begitu burukkah ini
Hingga ku harus mengalah
Ku harus pergi meninggalkan kamu
Yang telah hancurkan aku
Sakitnya, sakitnya, oh sakitnya
Cintaku cintaku
Lebih besar dari benciku lebih besar dari benciku
Cukup aku yang rasakan
Jangan dia jangan dia
Jangan dia jangan dia cukup aku
Jangan dia jangan dia cukup aku
Jangan dia (judika-bukan dia tapi aku)
—
Di sudut belakang kampus aku berdiiri bersandar di pohon pinus yang besar. Tiba-tiba Bayu datang nyamperin aku.Dia meminta maaf atas semua yang telah terjadi diantara Bayu dan Dayinta. Tapi aku menolak permintaan maaf Bayu. “Aku nggak butuh permintaan maafmu Bay. Aku cuma butuh kepastian dari kamu aku butuh penjelasan.” Bayu menghela nafas panjang dan segera menjelaskan semuanya. Ternyata yang aku khawatirkan selama ini benar-benar terjadi. Bayu memang mencintai Dayinta tapi disisi lain dia tidak mau putus denganku karna dia juga maih mencintaiku. Bagaimana mungkin dia membagi hatinya. Dia cinta dengan orang lain sementara dia masih berhubungan denganku. Bayu bahkan nggak ngasih alasan kenapa dia cinta dengan Dayinta orang yang suka membuat masalah denganku. Aku mendesah pelan. Bayu bertanya padaku,
“Kok kamu ekspresinya begitu? Enggak sedih apa gimana jangan-jangan kamu juga cinta sama orang lain?”
“Tolong Bay kamu berfikir dewasa. Kenapa aku harus sedih sekarang? Udah telat”
“Emang kamu udah tau dari dulu?”
“Coba kalo kamu di posisiku Bay pasti kamu juga ngrasain hal yang sama. Berkali-kali aku liat kamu berduaan sam Dayinta. Itu apa namanya kalau buka cinta? Udah Bay sementara waktu kita nggak usah ketemu. Kamu urusin aja tuh Dayinta”
“Tap…Tap…Tap…Tapi Bil aku tu masih sayang kamu”
“Simpen sayangmu buat aku. Jangan hubungin aku jangan temuin aku!”
Sejurus lamanya aku pergi meninggalkan Bayu. Ketika aku berjalan melewati perpustakaan kampus aku melihat Dayinta gandengan bersama Yoga, temen satu jurusannya. Tapi aku nggak berhenti, aku tetap melanjutkan langkahku. Tiba-tiba aku merasa jalanku sempoyongan. Aku terus melangkah, melangkah dan melangkah. Baru mendapat 5 langkah rasanya mau pingsan, untung saja dari belakang ada yang menopang tubuhku. Aku menengok. Syukurlah Alisa datang di saat yang benar-benar tepat.
“Kamu kenapa Bil?” Tanya Alisa
“Nggak tau Al makasih ya kamu nolongin aku”
“Aku anterin kamu pulang Bil mukamu pucet banget”
“Tapi nanti masih ada kelas kan?”
“Udah nggak papa nanti aku ijinin kamu sama dosennya”
—
Malam kian larut, tapi aku belum bisa juga memejamkan mataku. Pikiran ini masih terbayang-bayang kata-kata Bayu tadi sore. Nggak biasanya aku kayak gini. Setiap ada masalah dengan Bayu aku merespon biasa-biasa saja. Tapi kali ini aku benar-benar tersiksa sampe nggak bisa jaga kondisi tubuhku. Mungkin karena aku kecapekan juga. Badanku panas semua, tapi aku kedinginan. Aku beranjak dari tempat tidurku dan berjalan ke ruang tengah mencari kotak obat-obatan disimpan bunda. Setelah mendapatkan obat itu aku bergegas ke dapur mencari air. Beberapa menit kemudian suara bel rumah berbunyi pertanda ada tamu. Kemudian aku ke depan membukakan pintu.
“Bayu… Aku kan udah bilang jangan temuin aku dulu”
“Tapi sekarang aku perlu ketemu kamu Bil”
“Buat apa kamu ketemu aku?”
“Salsabila sekarang aku sadar aku butuh kamu. Aku nggak bisa jauh dari kamu. Tadi aku udah liat sendiri Dayinta jalan sama Yoga, mereka gandengan mesra. Dia nggak cinta sama aku. Dia cuma manfaatin aku.”
“Jadi critanya kamu patah hati sama Dayinta terus lari ke aku gitu? Pinter juga kamu Bay”
“Bukan gitu Bil. Aku juga sadar perasaanku ke Dayinta bukan cinta tapi cuma perasaan suka sesaat. Buktinya aku sekarang udah nggak mau kenal dia karena hal yang tadi.”
Perasaanku nggak karuan. Rasanya aku terharu setelah mendengar Bayu ngomong begitu.
“Aku juga tahu sekarang. Yang bisa jagain aku cuma kamu Bil, bukan Dayinta atau siapapun. Maafin aku Bil”
“Aku masih sayang kamu Bay. Sebelum kamu minta maafpun aku udah maafin kamu. Hati ini selalu terbuka untukmu. Aku percaya kamu akan kembali padaku”
“Makasih Bil. Sekarang aku nggak mau ninggalin kamu. Aku mau disampingmu selamanya.”
“Aku minta kamu janji sama aku nggak ada orang lain diantara kita Bay. Siapapun itu”
“Iya aku janji Bil nggak ada yang lain”
Seketika itu juga aku menangis dipelukan Bayu.
-TAMAT-