Kamis, 09 Mei 2013

Sederhana Tapi Bermakna

Sederhana Tapi Bermakna

“Ma Mutti udah gede. Mama nggak usah ngurusin urusannya Mutti lagi. Maaf ya ma, Mutti capek mau istirahat” ucapku dengan nada kesal.
“Tapi Mama juga berhak tau tentang kamu Mutt” jawab Mama
Duerrr… Aku membanting pintu kamarku.
Di dalam kamar aku tertawa kecil.“Ma, maafin Mutti ya Mutti marahnya nggak beneran.Cuman buat kejutan besok” kataku dalam hati.

Kejutan??Yah kejutan. 2 hari lagi Mama ulang tahun. Aku sama Kak Tiara udah nyiapin rencana. Oh ya Kak Tiara itu kakakku, dia sekarang kuliah semester akhir di jurusan music. Jaraknya sama aku cuman 4 taunan deh kayaknya. Mm, kalo aku kuliahnya ngambil jurusan farmasi, he nggak nyambung ya.Satunya music satunya kek gituan. Kakakku nama panjangnya Muttiara Azzahra Wijayanti, kalo aku sendiri Muttiara Anindya Wijayanti tuh beda tipis kan.Tapi bagusan punya kakak deh. Eh balik ke rencana tadi. Oh ya berhubung Tuhan ngasih aku suara yang bagus  ya nggak bagus-bagus amat sih, aku ngajakin kakak nyanyiin lagu buat Mama dihari ulang tahunnya besok. Kebetulan juga Papa pulangnya pas Mama ulang tahun. Tapi Papa nggak ngasih tau sama Mama kapan Papa pulang. Cuman aku sama Kak Tiara yang dikasih tau.Papaku dapet tugas dari perusahaannya ngurusin proyek yang ada di Surabaya.Okee. . kesempatan bagus.
***
2 hari kemudian….
Mama, Kak Tiara dan aku duduk di ruang keluarga sambil nonton TV. Kakak memulai pembicaraan
“Ma bikinin nasi goreng dong. Kangen sama nasgornya Mama”
“Iya Ma, Mutti juga pengen” aku jadi ikut-ikutan
“kenapa nggak bikin sendiri?” jawab Mama
“Yaelah Ma kalo yang bikin kita nggak enak, enak bikinan Mama” omelku
“Ya deh, bentar ya Mama bikini” sambil berjalan meninggalkan aku dan Kak Tiara menuju dapur.

Aku jalan dengan berjinjit-jinjit membukakan pintu, aku tau Papa udah ada di depan.
“Papa?Ayo masuk Pa. Kuenya  nggak lupa kan” tanyaku ke Papa
“Nggak sayang tenang aja, nih” jawab Papa sambil menunjukkan kuenya. WOW kuenya cantik, secantik Mama. Kue warna coklat, ditabur potongan browniss kecil-kecil, ditambah bunga mawar merah. Ah itu kesukaan Mama. Diatas kue terdapat tulisan ‘Happy Birthday Mama’ dan nggak lupa juga dikasih lilin ‘40’.
Sementara itu, Kak Tiara nyiapin pianonya buat ngiringin aku nyanyi nanti. OK semua udah beres, tinggal nunggu Mama keluar dari dapur. “Ma, cepetan udah nggak sabar” gumamku dalam hati.

“happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday happy birthday happy birthday to you”
“Wah jadi tadi itu kalian ngerjain Mama yaa” kata Mama
“Ya gitu deh….” jawabku dan Kak Tiara
“Ma, selamat ulang tahun ya.Semoga panjang umur dan sehat selalu.Tambah sabar aja ya ngurusin anak-anak. Eh sama Papa juga” kata Papa sambil senyum-senyum
“Panjang umur ya Ma, maafin Tiara kalo sering ngrepotin Mama. Semoga jadi lebih baik dari yang kemaren”
“Mama sayang, maafin Mutti ya kemaren bentak-bentak Mama. Itu cuman becanda, buat kejutan.Dan sekarang selamat ulang tahun, semoga bahagia selalu dan sehat selalu. OK Ma”
“Makasih banget ya Pa, Tiara , Mutti juga. Nggak tau lagi Mama mau ngomong gimana”
“Ayo tiup lilinnya Ma”
“eh tunggu Ma, make a wish dulu dong” kataku sama Mama

Mama kelihatan seneng banget, semua hari ini bahagia termasuk juga aku. Tuhan jangan kau biarkan kebahagiaan ini hilang dan lenyap sekejap.Begitu indah kebersamaan hari ini.Tak pernah kumerasakan seperti ini. Bak kupu-kupu yang sedang menari-nari di angkasa nan luas.
“Oh ya Ma, aku masih punya kejutan. Mutti udah siap kan” kata Kak Tiara
“Iya Ma, ini memang cukup sederhana. Tapi bagi kami ini sangat bermakna, semoga juga bagi Mama. Siap kak”
“tu..wa..ga”
Kak Tiara mulai menekan tombol-tombol di pianonya itu. Dan aku juga mulai menyanyi

Kubuka album biru Penuh debu dan usang
Ku pandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda
Pikirku pun melayangDahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orangTentang riwayatku
Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang
Nada-nada yang indahSlalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirkuTak kan jadi deritanya
Tangan halus dan suciTlah mengangkat tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidupRela dia berikan
Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang
Ohh… bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku.

“Loh Mama kenapa kok nangis?” Tanya Papa
“Nggak papa, Mama terharu aja ternyata anak-anak Mama pinter. Kreatif juga” jawab Mama
“Namanya juga Muttiara” jawabku serempak sama Kak Tiara.

Tiba-tiba. . .
Dada Mama sesak, sulit mau ngambil nafas. Kudengar degup jantungnya sangat kencang.
“Ma, Mama kenapa?” semua terlihat panik.
Kak Tiara cepat-cepat menelfon ambulan dari Rumah Sakit Bhayangkara.Tak ada 20 menit ambulan tiba di rumah. Mama langsung dibawa Papa masuk ke dalam ambulan. Aku sama Kak Tiara nggak ikut masuk ke ambulan. Kita nyusul pake mobilnya Kak Tiara.
***
Mobil melesat dengan kencang.Kak Tiara mencoba mempercepat laju jalannya karena sudah tertinggal ambulan agak jauh.
“Kak ati-ati aja, tenagn nggak usah panik” pekikku
“Tapi Mama Mutt” jawab Kak Tiara
“Iya Mutti juga khawatir, tapi kan udah ada Papa”
“Ya deh Kakak pelanin”
“Nggak nyangka banget Kak bakal kayak gini” ucapku
“Iya Mutt. Selama ini kan Mama jarang sakit”
“Padahal tadi aku liat Mama bahagia banget” kataku lagi
Sambil meneteskan air mata.Aku sedih, belum sanggup menerima ini semua.Ini begitu pahit.
“Udah Mutt terima aja, ini kan udah takdir Allah” kata Kak Tiara sambil mengelus-elus rambutku yang lurus ini.Dia berusaha menenangkanku.Sesekali dia iju mengusap airmataku dengan tangan kirinya.Sementara yang kanan buat nyetir.
“Udah, adeknya Kak Tiara nggak boleh nangis lagi.Liat kakak aja nggak nangis kok. Jelek lu ah kalo nangis!”
“Ya elah, iya iya Kak Tiara cantik”
Setelah itu kita semua terdiam.Tak ada satu kata pun yang terlontar dari mulut-mulut kita.Sampai mobil memasuki area parker RS Bhayangkara.
***
Aku langsung berlari mengampiri Papa.Sementara itu Kak Tiara masih jauh di belakangku.
“Pa Mama gimana?”
“Mama di dalem sayang, baru diperiksa! Tenang aja ya Mutti”
Setelah beberapa menit kita menunggu, Dokter pun keluar.
“Alhamduillah istri bapak masih bias diselamatkan.Tadi istri bapak sempat kehabisan nafas. Sekarang keadaannya sudah agak membaik” Kata Dokter Arya
“Dok, boleh saya masuk?” tanyaku
“Oh boleh silahkan”
Akhirnya aku dan Kak Tiara masuk ke dalam ruangan itu.Di kamar Anggrek no.26.Kulihat Papa nggak masuk ke dalam ruangan itu.Papa berjalan bersama dengan Dokter Arya, sepertinya mereka mau membicarakan sesuatu.
***
Di dalam kamar, Mama masih belum membuka matanya. Aku udah nyoba menahan cairan putih ini biar tetep berada dalam mata indahku, tapi hasilnya NO!!! pelan-pelan aku mulai meneteskannya.
“Kak maafin Mutti, Mutti bener-bener nggak sanggup”
“Kakak juga Mut, rasanya Kakak pengen nangis. Sini-sini Mut deket Kakak”
Akupun bersandar di bahu Kak Tiara.Setegar-teganya Kak Tiara tapi kali ini dia menangis.Aku tau dia merasa sangat terpukul.Kita nggak bisa nglakuin apa-apa selain berdoa.
“Muttiara. . .” tedengar suara Mama lirih. Bola mata hitamnya mulai nampak.
“Mama, Ma… Mama udah siuman”
“Kalian kenapa nangis? Anak-anak Mama nggak boleh nangis”
“Nggak kok Ma, Nih udah nggak nangis” sambil memperlihatkan senyum sama Mama.
“Nah gitu dong senyum. Papa mana Mutt?” Tanya Mama
“Papa baru di ruang dokter ma. Kangen ya Ma?” jawabku
Mama hanya tersenyum J “Ohh… Muttiara. Mama udah capek, Mama pengen istirahat”
“Mama kalo capek istirahat aja” jawabku santai
“Eh makan dulu tapi Ma. Tiara suapin nih” kata Kak Tiara sambil mengaduk semangkok bubur yang sudah disiapin suster tadi.
Terdengar ada yang mengetok-ngetok pintu. Oh Papa, kemudian dia masuk.
“Ma udah baikan ya. Kelihatannya seneng banget bercanda sama anak-anak”
“Kenapa sih?Papa nih sirik aja” jawab Kak Tiara smbil ketawa-ketawa.
Setelah kami bercanda tawa ria, Mama akhirnya tertidur. Aku masih sangat khawatir dengan keadaan Mama.Tiba-tiba Papa mulai berbicara, mengatakan yang sebenarnya. “Muttiara…. Mama kalian, saat ini mengidap penyakit yang cukup berbahaya” kata Papa
“Penyakit apa Pa?” tanyaku
“Mama terkena penyakit Anemia, sudah sangat parah. Umur Mama sudah tidak lama. Dokter Arya sudah memprekdisikan seperti itu”
“Tapi Mama itu jarang sakit Pa, paling cuman batuk-batuk gitu aja” Tanya Kak Tiara
“Kata Dokter Arya, Mama malah sering sakit. Sering priksa ke sini. Kebetulan priksanya sama Dokter Arya juga”
“Berarti Mama nyimpen rahasia ini dong Pa”
“Iya sayang. Mungkin Mama nggak mau kalian tau itu karna Mama nggak pengen lita kalian sedih”
Pedih.Aku seperti orang linglung.Menggeleng-gelengkan kepala serasa tidak percaya dengan ini semua.Sungguh ini terlalu berat untuk ku terima. Sangat berat! Aku dan Kak Tiara merasa bersalah karna nggak bisa jagain Mama dengan baik. Sampe Mama ngidap penyakit ini.
***
01.00 WIB
Papa, aku dan Kak Tiara sholat tahajud, meminta petunjuk Allah biar Mama bisa sembuh dan bisa bercanda tawa lagi bersama kita. Seusai sholat aku dan Kak Tiara membacakan ayat-ayat suci Allah, supaya kita semua, terutama Mama diberikan perlindungan oleh-Nya.

Sudah jam 03.00, kemudian kita kembali tidur. Tapi aku tak kunjung memejamkan mataku. Masih menatap jam dinding yang tergantung di pojok ruangan ini.“Tuhan andaikan waktu dapat kuputar” kataku dalam hati.Yah… semua yang udah terjadi nggak mungki bisa kembali lagi.
***
Usai sholat subuh aku duduk di samping Mama  yang terbaring lemah. Aku memegang tangannya. Dengan tidak sengaja aku menyentuh denyut nadinya “nggak ada”. Aku masih nggak percaya, lalu aku memegang dada Mama. Kupikir bisa merasakan detak jantungnya. Ternyata “nggak ada” aku langsung berteriak “Papa, Kak Tiara” Mereka yang tadinya duduk-duduk di teras cept-cepat masuk. Setelah mereka masuk gantian aku yang keluar, bermaksud mencari Dokter Arya.

Tak lama kemudian Dokter Arya datang bersamaku dan memeriksa Mama. Sia-sia. . . memang benar Mama sudah tiada. Mama pergi untuk selamanya. Kemudian jenazah Mama dibawa ke ruang jenazah untuk dimandikan dan dikafani. Di dalam ruangan anggrek no.26 itu aku tak henti-hentinya menangis. Begitu juga Kak Tiara dan Papa. “Ma, kenapa Mama ninggalin Mutti. Mama harusnya masih disini. Mama…”
“Mutti udah sayang ikhlasin aja, biar Mama tenang perginya” kata Papa.
Aku berdiri di dekat meja, mataku tertuju pada sebuah kertas kecil yang diatasnyaada polpen. Ku ambil kertas itu dan kubaca
Muttiara Azzahra Wijayanti
Muttiara Anindya Wijayanti
Akan selalu jadi mutiaranya mama
Tetaplah tersenyum untuk Mama

Begitu pahit, pahit dan sangat pahit. Lebih pahit dari yang paling pahit. Secepat ini Mama ninggalin aku. Sementara aku belum sempet buat Mama bangga sama aku.  Tuhan pasti punya rencana bagus dibalik ini semua. Aku hanya bisa berdoa semoga Mama diampuni dosa-dosanya, diberikan ketenangan dan semoga Mama masuk surga. Amin. Airmataku tak kan pernah habis menangisi kepergian Mama. Kini tiada lagi Mama yang sering ngomelin aku, yang sangat memperhatikanku, yang sangat sayang sama aku. Mama pergi meninggalkan aku. Sekarang Mama sudah siap dimasukkan dalam liang kubur.
***
Acara pemakaman sudah selesai, semua sudah pergi. Hanya ada aku dan Kak Tiara. Kita duduk berdua, memegang batu nisan. Yang kurasakan saat ini hanya sedih.
“Kak ayo nyanyi lagu itu lagi buat nganter Mama untuk tidur untuk selana-lamanya”
Kemudian aku dan Kak Tiara menyanyi.
Kubuka album biru Penuh debu dan usang
Ku pandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda
Pikirku pun melayangDahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orangTentang riwayatku
Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang
Nada-nada yang indahSlalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirkuTak kan jadi deritanya
Tangan halus dan suciTlah mengangkat tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidupRela dia berikan
Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang
Ohh… bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku.

-TAMAT-