FABER CASTELL #4 Miss You So Bad
FABER CASTELL #4 Miss You So Bad
Fix 3 tahun ke depan nggak bakal bisa lihat lagi tingkah-tingkah konyolnya. Jailnya. Nggak bisa ngerjain tugas bareng di kelas, ke kantin, ke mushola. Yang paling bikin galau itu –cieh- nggak bisa curi-curi pandang lagi. Tapi nggak papa ini demi masa depan pribadi masing-masing. Sekarang udah pada dewasa harus bisa berargumen secara rasional dan akal sehat. Toh kita tetep bisa ketemu di waktu luang. Sekalipun cuma ketemu satu jam dua jam.
Hari ini untuk kita…
“Silahkan duduk nona manisku.” Sambil mempersilahkan masuk dan aku bersiap diri.
“By the way mau kemana ni?”
“Muter-muter sini aja yuk”
“Ntar pusing? Ke sekolah kita aja, dulu maksudnya”
“Liat PPDB ya? Ayuuuk” jawabku penuh semangat
“Lets go”
“Eh bentar, ngajak Bang Juna boleh ya”
“Ntar aku jadi obat nyamuk?”
“Biasanya juga gimana?" sambil mencubiti pipi imutnya.
"Yadeh.. Yuk" bergegas meninggalkan rumah.
Tak lama kemudian kita sudah bisa melihat ramainya para wali dari calon siswa mengurusi admistrasinya masing-masing. Si calon siswa sendiri pada asyik bermain-main di lapangan badmintoon, ada yang berkejar-kejaran di koridor kelas. Ada juga yang hanya duduk memandang sekeliling gedung bercat hijau kebiruan yang tampak kokoh ini. Aku dan Bella duduk membelakangi mereka.
Dan ini dia yang aku tunggu sudah datang. Sosok misterius yang hatinya sulit diluluhkan -menurutku-. Dengan gayanya yang klasik, dibalut celana jeans berwarna hitam kebiruan yang dilipat kecil bagian bawah. Kemeja putih lengan panjang dengan black line yang membuat dari kejauhan berwarna biru muda. Aroma khas parfumenya yang menggoda hidungku untuk segera menghampirinya. What a handsome he is! Let me bring yourself into myself now and forever. Rasanya pengen banget meluk kamu. Eh ini kan tempat umum, yang liat beratus-ratus pasang mata woy sadar ! Haha. Akhirnya dialah yang menghampiriku. Duduk besebelahan denganku dan Bella. Tapi dia memilih untuk berpindah haluan menjadi menghadap aku dan Juna. Kalau sudah bertiga seperti ini bakalan susah berhenti ketawa. Mengobrolkan hal-hal sepele yang mungkin baginya orang lain gazebo (gak zelas boo). Saling mengejek bahkan sampai nusuk di hati. Ketika salah satu dari kita ada yang sedang mengalami posisi di atas saling memberikan puji-pujian. Saat sedang di bersakit-sakit di posisi bawah kita saling memberikan support. Dan begitulah seterusnya.
Setelah cukup lama kita bergazebo ria, kita berjalan melewati koridor kelas yang semakin kotor karena ditinggal para penghuninya. Berjalan menyebrang lapangan di bawah teriknya matahari yang akan semakin berada di puncak tertinggi. Kita berhenti di satu tempat. Kantin langganan. Duduk di dalam bersama sang empunya. sementara Bella mengobrol dengan ibu kantin, Juna mendekatiku dan agak berbisik
"Mi keluar bentar yuk, ada yang mau aku omongin."
"Yuk!"
"Bel, bentar ya." pamitku ke Bella.
Tiba-tiba Ibu kantin berdehem ria disusul cie-cienya khas dari Bella. aku tahu mereka bermaksud menggodaku dengan Juna.
Aku duduk tercenung di bangku yang tertata rapi di samping kantin. Tanpa sengaja mataku beradu pandang dengan mata bulat milik sosok lelaki yang saat ini berdiri tepat di hadapanku. Sepertinya aku belum pernah merasaakan ini sebelumnya. Ini sungguh luar biasa. Sedetik kemudian aku menundukkan kepala. Sambil memegangi kedua tangannya aku mulai membuka pembicaraan dengan nada lirih tak berani menatapnya,
"Bang Juna mau ngomong apa?" Aku nggak tahu kenapa sebabnya aku suka memamnggilnya dengan sebutan Bang. Sepertinya lebih ke perasaan menghormati.
"Cuma mau ngomong I LOVE YOU SAYANG."
"Ihh Bang Juna." aku sedikit kesal dan sekeras mungkin aku berusah mencubit lengannya. Tetapi dia membalas mencubiti pipiku. Itu satu-satunya hal paling suka dia lakuin kalau aku lagi marah-marah, ngmbek, cemberut atau apalah yang bikin dia benci ngliatnya.
"Stop!! Sakit tauk!"
"Uhhuu sakit ya, sini adik kecil.." sambil mebawaku ke pelukannya. Tapi dengan cepat aku melepasnya dan lebih memilih duduk di sampingnya kemudian bersandar di bahunya.
"Besok tanggal berapa ya Mi?" tanyanya.
"Tanggal 8, emang kenapa Jun?"
"Kaya ada yang special deh."
"Apa sih?"
"Ada yang ulang tahun deh tapi siapa aku lupa."
"Aku yang besok ulang tahun aja juga lupa."
"Oh yaudah Mi lupakan aja."
Tawa kita lepas dengan perbincangan konyol semacam itu. aku bisa lupa gimana dia kemarin marah-marah gara-gara cemburu sama Guntur -cerita zaman dulu-. Berhari-hari aku dicuekin, didiemin, kalo ditanya pasti jawabnya nggak ngenakin hati. Yaa.. Itulah Arjuna. Sekali marah, tapi awetnya minta ampun. Dia beli formalin seberapa banyak coba? Tapi kalau bukan demi kamu, aku nggak mungkin mau mohon-mohon dimaafin sampai nangis-nangis di depanmu. Sampai aku harus lari-larian ngejar kamu. nungguin kamu bilang 3 kata aja "Aku maafin kamu." Dengan hati yang bersih, tulus dan ikhlas -ceilah-. Dan kemudian aku akan lansung tersenyum bahagia. Sebahagia saat ku di sampingmu Arjunaku. Cz I'm happy just with you.
Tak terasa matahari hampir tepat di atas kepala. aku berdiri menarik pergelangan tangan Juna.
"Kesana yuk!" memberikan isyarat untuk segera masuk menyusul Bella.
"Bentar lagi ya sayang."
"Ayo ah. Udah siang nih!"
"Siapa juga yang bilang udah pagi? Ke sana sendiri aja." Aku langsung melepas genggamannya lalu pergi meninggalkannya. Baru dapet 3 langkah, langsung ku hentikan langkahku dan berbalik arah.
"Tapi maunya sama kamu."
Dia yang sudah berfikir aku akan kembali langsung berjalan mendekatiku. Tanpa pikir panajang aku menyurukkan kepalaku tepat di dadanya. Sambil tertawa kecil aku merasakan degup jantungnya. Tarikan napasnya. Dan menghayati betapa berartinya dia semenjak memasuki kehidupanku. Oh Arjunaku... Kamu akan terus hidup dalam hidupku. Kamu akan terus mengalir dalam darahku. Terus berdenyut dalam nadiku, dan kamu.. Akan terus berdetak dalam jantungku. Kita tetap terdiam tanpa kata. Mungkin ini yang terakhir sebelum kita nanti akan lama tak berjumpa. Tiba-tiba ada suara anak-anak kecil yang memecah suasana romantisme -kalau ditambah alunan lagu A Thousand Yearsnya Christina Perry- itu.
"Hayoo lagi pada ngapain?" Teriakannya membuatku tersipu malu.
"Adik kecil sini ngumpet di belakangku. Nggak bakal keliatan."
"Emang bisa? Kamu kan cungkring gitu!" Mendengar balasan ledekanku, aku langsung diamuk habis-habisan. Pipi dan lenganku menjadi korban ganasnya tangan Juna.
-----
Ulang tahun, sekolah hari pertama, libur awal puasa sudah terlewati. Sampai sekarang sudah memasuki minggu terakhir bulan puasa. Rutinitas di bulan suci ini, bangun di sepertiga malam untuk sahur bersama keluarga, kemudian bersiap sholat subuh berjamaah entah di masjid atau hanya di rumah saja. Dan setelah itu aku sering dihadapkan pada 2 pilihan. Mau belajar atau kembali tidur? Kalau lagi benar-benar malas belajar dan nggak ada hasrat untuk belajar aku lebih memilih untuk kembali berbaring ke tempat tidur. seperti sekarang ini. sambil mengistirahatkan pikiran.
Pagi hari aku sudah siap berangkat sekolah. Tapi rasanya masih berat untuk melangkahkan kaki keluar menuju garasi. Malas tanpa sebab. Aku berangkat sendirian bersama motor tercinta. Tetapi di 1/4 perjalanan raut wajahku lansung berubah total. Sepanjang jalan aku senyum-senyum sendiri. Bisa-bisa semua orang yang melihatku mengira aku ini gila atau kenapa -haha-. Tapi aku cuma pengen mereka tahu "I'AM HAPPY TODAY". Rasa malas-malasan tadi terkalahkan oleh semangatku yang tiba-tiba muncul setelah melihat senyuman manis itu. Pasti sudah tahu siapa yang punya senyuman itu.. Arjuna Dharma Prayogo. Setiap hari aku berdo'a "Tuhan izinkan aku menyaksikan kedipan matanya barang sedetik dua detik" Dan Tuhan selalu mendengar lirihnya tangis dan bisikku. Aku percaya Tuhan selalu mempunyai cara tersendiri untuk membuat umatNya bahagia dan bisa juga sengsara. Thanks God :)
Masih di hari itu... Sore harinya..
Matahari sudah mulai menampakkan sinarnya yang jingga. Peraduannya sudah bersiap untuk menerimanya kembali. "Maaf ya Bang Juna aku enak-enakan tidur siang sedangkan kamu di lapangan sana." kataku dalam hati. Kenapa panas-panasan? Iyaaaahh. Dalam memperingati HUT RI yang jatuh pada tanggal 17 Agustus, teman sekolah satu angkatannya mendapat tugas negara -cieh- menampilkan sebuah aksi drama kolosal saat upaca penurunan bendera. untuk itu, bersama segenap pasukan pemain drama selama bulan puasa ini diisi dengan sore hari yang dihabiskan untuk latihan di sekolah. Termasuk pada saat memasuki liburan akhir puasa. Ckckc what a pitty they are! -hihi just kidding ya-
Sambil menguap beberapa kali karena masih terbawa rasa kantuk aku berjalan menuju tempat wudhu. Kemudian sholat asahar dan kebetulan ada tawaran main PS sama Reza, adikku satu-satunya. Di setengah permainan, drrrtt..drrt HP bututku bergetar aku buru-buru membukanya.
From : Arjuna :)
Mi aku abis keclkn :(
To : Arjuna :)
Bcnda deh.
From : ARJUNA ;0
Serius yaa
Aku masih belum percaya, terus fokus pada PS. Tapi... Brukk!! Aku langsung membanting stik PS yang sedari tadi melekat di tanganku. Baru ku sadari dia memang tidak sedang main-main. He's got an accident. Aku galau tingkat dewa. Aku bertanya banyak hal ke dia, seperti reporter meliput korban kecelakaan -aissshh-. Syukurlah dia tidak kenapa-kenapa. hanya butuh istirahat yang cukup. Mulai saat itu aku selalu mengingatkannya untuk sholat, makan teratur, minum obat, melarangnya untuk ikut latihan lebih dulu entah latihan kolosal ataupun latihan di klub volly. Biar kondisinya pulih dulu setelah itu terserah dia mau ngapain lagi. Maaf ya sayang aku cuma bisa berdoa dari sini. Aku hanya bisa mengirim berbait-bait do'a lewat hembusan nafasku demi kesembuhanmu. Asal jangan lupa sholatnya juga :)
Malam harinya aku duduk di depan meja belajar kamar. Menghadap buku Biologi, niatnya mau belajar tapi sama sekali nggak ada yang masuk di kepala. Tiba-tiba Ibu masuk dan duduk di belakangku.
"Kamu kenapa? Ada masalah?" tanya Ibu yang ternyata sedari tadi sudah memperhatikanku. Perasaan seorang Ibu yang sangat peka terhadap anaknya. Akhirnya aku menumpahkan semua kepadanya. Tapi aku mencoba untuk menahan air mataku supaya tidak tumpah di depan Ibu. Aku nggak mau Ibu melihatku menangis. Mendengar ceritaku Ibu juga ikut mendoakan dia. Semacam ada rasa empati dari Ibu untuk Juna. Makasih Ibu, Juna pasti akan cepat pulih :)
-----
Happy Birthday Indonesiaku :)
Berhubung aku mendapat jatah upacara pagi hari, berarti sore ini aku bisa nonton pertunjukan drama kolosalnya Bang Juna bersama teman-teman seperjuangannya. Aku berangkat dari rumah sama Vika, teman kecilku yang rumahnya yaah bisa dibilang dekat lah jaraknya dari rumahku. Katanya sih dia juga mau nonton si mantan pacarnya -eh keceplosan-. Setelah sampai di sana aku duduk merapat dengan penonton lain duduk di tepi lapangan. tak berapa lama kemudian barisan kelompok pemain drama kolosal memasuki lapangan. Hal yang tak terduga terjadi. Masih di barisan depan, aku melihatnya dengan sepasanga mata kepalaku sendiri. Baru ini aku melihatnya lagi setelah dia kecelakaan itu. Kemarin aku menyempatkan mampir menyaksikan gladhi bersihnya, tapi nggak melihat batang hidungnya. Dan untuk hari ini, di hari-H aku melihatnya meskipun dia nggak melihatku. Aku berteriak sekencang mungkin "Semangat ya. Aku di sini" Vika menatapku kemudian ketawa ketiwi. Penonton lain sudah tidak memperhatikanku. Mereka sibuk sendiri-sendiri mencari posisi yang menurut mereka paling Oke. Ketika pertunjukan hampir selesai aku bertemu Gea bersama adiknya. Tetapi baru sebentar mengobrol aku berpamitan pulang dahulu karena waktu sudah hampir adzan maghrib. Selamat petang Arjunaku, aku pulang dulu ya sampai ketemu di lain waktu dan tempat :)
To be continued.
Nggak ada pesan-pesan atau amanat dalam cerbung ini. Cz aku cuma iseng-iseng aja nulis ini. Makasih banyak buat siapa aja yang udah nyempetin baca. Jangan segan-sengan coret-coret dibawahnya. Tunggu kisah selanjutnya ya {} Buat Arjuna Happy 29 ya, yuuk nyanyi lagu kebangsaan kita D'massive ~ Natural :)