Rabu, 12 Juni 2013

Sahabat Pacarku, Pacar Sahabatku (ʃ⌣ƪ)


Nama : Fikrie Noor Aisyah
No. Kelas : 01 / XE
Persiapan Menulis Cerpen
  1. Tema               :           Persahabatan
  2. Tokoh              :           - Aku (Raisa)
                                    - Bima
                                    - Shila
                                    - Rizal
                                    - Ibu Shila
                                    - Bunda Rizal
                                    - Kak Dina
c.                                                    Setting :           Tempat : Sekolah, Rumahku, Rumah Rizal, Pemakaman, Rumah Shila.
Waktu : Pagi, siang, sore hari.
                                          Suasana : Mengharukan, menyedihkan, menggembirakan.
  1. Sudut pandang :          Orang pertama serba tahu.
  2. Konflik            :           Ketika tiba-tiba Ayah Rizal dikabarkan meninggal dan membuat semuanya menjadi berubah. Termasuk kehidupan Rizal yang tak seindah dahulu tanpa kehadiran ayahnya. Dia tak seceria seperti sedia kala. Namun dengan peristiwa ini persahabatannya denganku dan Bima menjadi terasa semakin erat.
  3. Peristiwa         :           Aku mempunyai pacar bernama Bima. Aku juga mempunyai sahabat bernama Shila yang tak lain adalah sahabat pacarku. Bima mempunyai sahabat bernama Rizal dan tak lain juga dia adalah pacar Shila. Kami berempat menjalin sebuah persahabatan. Suatu hari Ayah Rizal meninggal dunia 3 hari sebelum Rizal ulang tahun. Kami pun memberikan banyak dukungan padanya. Saat tiba di hari ulang tahunnya kami juga memberikannya kejutan kecil. Sejak saat itu juga, persahabatan kami menjadi semakin erat.
  4. Kerangka         :           1. Aku mengenal Bima dan berpacaran dengannya.
2. Aku mengenal dan bersahabat dengan kedua sahabat Bima yaitu Shila dan Rizal.
3. Kabar mengejutkan dari keluarga Rizal bahwanya ayahnya meninggal.
4. Takziah ke rumah Rizal bersaama Shila dan Bima.
5. Memberikan kejutan kepada Rizal di hari ulang tahunnya.



SELAMAT MEMBACA J
Sahabat Pacarku, Pacar Sahabatku

Sebut saja dia Bima. Bima adalah temanku sejak duduk di bangku kelas 1 SMP. Sejak itu pula kita dekat, lebih dekat, semakin dekat dan sangat dekat sehingga menimbulkan rasa empati, juga rasa nyaman saat bersamanya. Akhirnya kita mempunyai sebuah relasi lebih dari sekedar pertemanan yang entah orang lain menyebutnya sebagai apa. Sampai saat ini pun masih seperti itu dan insyaallah akan terus seperti itu. Seiring berjalannya waktu aku mengetahui sedikit banyak hal tentang latar belakangnya. Mulai dari keluarga, saudara, sahabat dan teman dekatnya yang satu ini, Shila.
Pertama kali aku mengenal Shila dari foto-foto mereka dengan teman-temannya yang lain tersebar di jejaring sosial, facebook. Lama kelamaan kitapun berteman akrab dan bersahabat dekat. Begitu juga dengan hubungan Shila dengan kekasihnya yang biasa dipanggil Rizal, tak lain dan tak bukan Rizal ini adalah sahabat dekat Bima. Dunia terasa sempit ya. Aku rasa Bima dan Rizal sekarang menjadi semakin dekat. Kedekatannya bak pinang dibelah menjadi dua saja. Kemanapun perginya mereka pasti selalu berdua. Karena saat ini mereka juga satu kampus SMK mau tidak mau banyak kegiatan yang memaksanya untuk bersama-sama termasuk juga kegiatan klub yang mereka ikuti sejak masih SMP. Yang paling aku suka dari cara mereka berteman, mereka selalu mencoba untuk menjadi pahlawan untuk sahabatnya sendiri. Belum lama ini keduanya mengikuti seleksi PORDA Provinsi, namun dengan sangat terpaksa pelatih tak meloloskan Bima hanya karena permasalahan tahun kelahiran. Bima sangat kecewa dengan keputusan itu. Hingga akhirnya ia tak mampu membendung air matanya. Sepulang latihan, Rizal menemui Bima dan menghiburnya sebisa mungkin sampai Bima bisa benar-benar tertawa lepas melupakan beban yang dipanggulnya sekarang.


Bel pulang sekolah berbunyi dengan nyaringnya, tapi aku masih malas-malasan untuk pulang. Kutatap benda kecil tepat di depan pandanganku. Monkey, si gantungan kunci motor kesayanganku. Biasanya aku selalu bersemangat untuk pulang. Tapi tidak kali ini, lapangan upacara terlihat basah setelah diguyur hujan dengan derasnya. Lalu tiba-tiba aku berdiri dengan tegap dan mulai berlari kecil menuju tempat parkir. Agak lama aku memutar bola mataku karena aku lupa menempatkan motorku di sebelah mana. Nah itu dia! Aku segera menghampirinya dan buru-buru membuka bagasi motor. Ada 2 pesan dari nomor baru. Open messages.
Innalillahi wa innailaihi raji'un. Kataku lirih. Raut wajahku langsung berubah. Panik. Shock. Terkejut. Tanpa pikir panjang lagi aku bergegas meninggalkan sekolah. Aku keluar dari gerbang sekolah tanpa jas hujan padahal hujan masih lumayan deras. Baru beberapa meter meninggalkan sekolah aku merasakan tubuhku gemetaran dan basah kuyup. Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti dan mengenakan jas hujan. Sebenarnya aku tak pernah bertemu langsung dengan beliau dan bisa dibilang aku kenal Rizal belum lama, tapi aku bisa merasakannya. Aku menganggap Rizal sahabatku sendiri dengan salah satu alasan sahabat pacarku, pacar sahabatku.
Sesampainya di rumah aku melepas seragamku. Aku terdiam tak berani bergeming. Duduk merangkul lutut yang tertekuk dan bersandar di kursi ruang tamu sambil mendengarkan suara hujan dan sesekali mendengar handphone berdering. Akhirnya Bima membalas pesanku.

From : Bimabimbim
Brsn dari rmh Rizal. Ikutan sdh aku :(
To : Bimabimbim
Nonono! Bkn gitu caranya. Rizal need your smile ! Km harus semangaaaaat :-)
From : Bimabimbim
Dia kasihan bgt, aku gak tega :(
To : Bimabimbim
Makdrit. Aku turut bela sungkawa ya. Pkoknya km gak blh ikutan lemah di depan dia.
From : Bimabimbim
Makasih sayang.. Iya
To : Bimabimbim
Aku yakin km pasti udah tau apa yg harus km lakukan. Do the best Bimaaa :*
From : Bimabimbim
Okedeh sayangku :-)



Hujan di hari kemarin yang tak kunjung reda hingga malam larut membuat jenazah AKP Sunu Pranowo di makamkan hari ini juga pukul 10.00 dengan upacara kemiliteran. Para pelayat telah berdatangan silih berganti. Saking banyaknya, tenda yang didirikan tak mampu menampung sehingga ada yang hanya duduk berjajar memenuhi jalan kecil di depan rumah duka. Aku duduk di sebelah kanan Shila. Sesekali dia melirik BB di tangan mungilnya. Tanpa disadari ada pesan dari Bima yang memintanya untuk segera menemui Rizal. Kita bergegas pergi dan mencari tempat di mana mereka berada. Setelah menemui keduanya, Shila duduk mendekat dan meraih bahu Rizal berusaha menenangkannnya. Baru saja kita duduk, tiba-tiba ada seorang perempuan dengan wajah keibu-ibuan mendekati Rizal memintanya untuk segera masuk ke rumah karena jam sudah menunjukkan pukul 09:55. Artinya, jenazah akan segera dimakamkan. Sementara Rizal berjalan meninggalkan kami, Bima dan Shila sibuk berdebat, akupun sedikit pusing untuk melerainya karena mereka sama-sama tak mau kalah. Akhirnya jarum jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 10:00 WIB. Pembawa acara segera membacakan susunan acara satu demi satu. Inspektur upacara juga telah berdiri dengan gagahnya. Tapi tak segagah lelaki yang berdiri di belakang peti jenazah. Kulihat sosok itu dirangkul 2 sanak keluarganya. Dia lemah tanpa daya. Di sebelahnya ada 2 orang wanita lagi yang tak henti-hentinya menangis. Usai upacara kemiliteran melepas kepergian sang komandan perwira selesai, saatnya peti jenazah dibawa ke dalam ambulans untuk selanjutnya diantarkan ke tempat istirahat terakhirnya. Tak ada yang menyangka beliau akan pergi secepat ini. Dari jauh malaikat maut telah bersiap dengan gagahnya untuk menjemput sang pemimpin  yang sangat berkarisma itu. Sosok yang begitu berarti bagi orang-orang yang kini ditinggalkannya bersama seluruh pesan, harapan dan kenangannya.
Isak tangis menghiasi tempat ini. Dari kejauhan aku melihat Rizal dan kakaknya, Kak Dina. Mereka duduk berdampingan menatap lurus ke arah lubang galian yang telah dipersiapkan oleh si petugas makam. Aku berjalan mengikuti Shila ke arah Bima. Aku menggenggam tangannya erat-erat. Sekali waktu aku menatap wajah cantiknya. Aku  mengerti matanya masih bisa menahan air matanya agar tak keluar. Ia melemparkan senyum manisnya kepadaku, aku membalasnya dengan penuh keyakinan
"Rizal pasti kuat, kamu juga harus kuat Shil. Semua pasti bisa. Kasih senyum ini buat Rizal"
Kemudian ia tak mau menatapku  kembali. Dia terus memandangi sekitar. Aku merangkulnya dan dia mencoba meraih tanganku yang ada di pundaknya. Aku menggelengkan kepala ketika peluru dilepaskan oleh 6 lelaki bertubuh kekar itu.
"Almarhum AKP. Sunu Pranowo dilahirkan pada tanggal 4 September 1967 dan meninggal pukul 10:20 pada tanggal 18 Mei 2013 dikarenakan sakit." kata seorang perempuan yang mengatur jalannya upacara  pemakaman.
"Beliau meninggalkan seorang isteri, seorang putri, dan seorang putra dalam usia 45 tahun.”
Tanganku merangkul pundak Shila dan aku bersenandug kecil menyanyikan lagu yang diajarkan oleh sahabat baikku sewaktu masih berseragam putih biru.
Namun sayang kita takkan bertemu kembali
Terpisahkan dimensi ruang dan waktu
Membuathatiku selalu rindu
Merindukan dirimu duhai komandanku
Ayah dengarkanlah
Untaa kata ini hanya untukmu
Sebuah doa dari diriku
Semoga dirimu bahagia di sana
Aku kan berdoa
Memohon pada Tuhan Yang Esa
Semoga amal-amal baikmu
Tak sia-sia kala engkau di sana
Ayah slamat tinggal
Slamat jalan dirimu tak kan kulupa
Kan kuingat slalu dalam hatiku
Bersama kenangan indah kita berdua               (Selamat Tinggal, Agus Prabowo)

Semoga lagu ini dapat mewakilkan sejuta perasaan Rizal dan Kak Dina. Lagu ini juga aku nyanyikan ketika pemakaman nenek ibuku hampir satu setengah tahun yang lalu.
Saat prosesi pemasukan jenazah ke liang lahat semua orang panik melihat Bunda Rizal sudah tak sadarkan diri kemudian langsung di bawa menjauh dari lokasi. Beberapa saat kemudian suasana berubah menjadi hening dan terdengar seseorang berbicara dengan lantang. Rizal behasil memecahkan keheningan.
"Aku janji mau jagain Kakak sama Bunda.”
Semua yang ada di sana langsung berlomba-lomba meneteskan air matanya.
"Selamat jalan komandan.” katanya lagi.
Tak terasa cairan bening mengalir membanjiri pipiku. Aku tak kuasa menahannya. Tetapi aku buru-buru menghapusnya. Shila mencoba mendekatiku dan aku langsung merangkulnya. Kuihat dia masih saja menangis. Akupun segera mengusapnya hanya dengan jari-jariku karena lupa membawa tissue, sehelai pun.
Saat kamu menangis aku akan selalu menghapuskan air mata kamu. Saat kamu lemah aku akan menguatkanmu. Saat kamu pergi yang akan aku lakukan hanya menunggumu kembali. Saat kamu gagal aku akan membuatmu berhasil. Aku ingin menjadi seseorang yang terbaik untukmu meski banyak orang di luar sana yang jauh lebih baik  dariku. Aku hanya ingin kalian paham tentang arti ketulusan dan juga keikhlasan berbagi.

Setelah selesai, semua berjalan meninggalkan pemakaman termasuk Rizal. Kulihat dia yang bercucuran keringat masih sempat menengok ke belakang karena pundaknya di tepuk Bima.
"Kamu pasti bisa. Kamu kuat Zal!!!"
Aku dan Shila menghampiri Rizal yang masih berdiri di tepi jalanan. Aku berjabat tangan dengannya. "Fighting ya" kataku sambil menatapnya. Dia hanya membalas dengan senyum, begitu juga dengan Shila yang entah menasihatinya apa. Aku suka senyum palsunya. Selalu berusaha tegar di hadapan orang lain padahal yang sesungguhnya terjadi hatinya berkecamuk, pikirannya campur aduk.
"Ya Allah dia pasti kuat. Sahabat pacarku dan pacar sahabatku be strong yaaa!!" kataku dalam hati.

Perjalanan hidup adalah sebuah proses dan kematian adalah final. Begitu pula kematian adalah jodoh yang pasti datang untuk mendampingi kita untuk melangkah di kehidupan yang baru   (Sinta Ridwan)
“Jangan pernah menjual kesedihan dan tangismu hanya untuk masa depan, karena masa depan adalah rancangan, kehidupan adalah sekarang, hadapi!”    (Kirana Kejora)


21 Mei 2013
Happy new year sahabat pacarku dan pacar sahabatku. Pagi ini embun masih sama seperti yang kemarin. Mentari pun masih mentari yang sama. Aku sempatkan membuka akun facebook yang belakangan ini sudah jarang aku rawat. Aku mengirimkan sesuatu di dinding Rizal, mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. Setelah itu aku segera log out dan beralih ke twitter. Aku mengintip timeline Kak Dina, satu-satunya kakak perempuan Rizal. Dan apa yang aku dapatkan? Rangkaian kalimat yang membuatku terenyuh dan tersentuh.
@pratidinaanja ~ selamat pagi sunu junior semangat sekolah yok, hap hap hap ! Kamu keren banget :*
@pratidinaanja ~ jangan melihat kepergian ayah adalah sebuah kado, tapi apa yang ayah tinggalkan untuk kita adalah yang terindah, be a strong boy !
@pratidinaanja ~ selamat ulang tahun stong boy Rizal makin dewasa, makin tanggung jawab, sehat, sukses, pantang nyerah, bisa pasti bisa :)
@pratidinaanja ~ untuk mengucapkan selamat ulang tahun pun rasanya aku ga kuat, aku sayang kamu dik, kita bisa ya :')
@pratidinaanja ~ 10 menit lagi adik ultah yah, aku ga tau aku harus gimana.


Blackforest cantik sudah di tangan. Adzan telah berkumandang, aku segera menghadap Tuhanku. Setelah itu aku diajak duduk kembali di sofa ruang tamu. Beberapa lama menunggu Bima melaksanakan kewajibannya sebagai makhluk yang taat pada Tuhan dan mengisi perutnya, akhirnya dia datang juga. Selagi menunggu Shila mengenakan jilbabnya, aku dan Bima membicarakan suatu hal.
"Salah nggak sih kalau kita ke sana rame-rame padahal di sana masih berkabung." tanyanya meminta pendapatku.
"Tergantung niat kita aja. Siapa juga yang mau rame-rame? Cuma mau ngasih blackforestnya ini sebagai ucapan selamat ulangtahun kan?"
"Iya juga sih. Tadi malem aku sms dia jam berapa ya lupa aku. Kira-kira 12 lebih deh."
"Cieee so sweetnya. Bim mau tanya dong. Emang seberapa deket sih Rizal sama ayahnya?"
"Sedeket aku sama kamu sekarang ini Sa, hehe."
"Bimaaaaa serius! Denger-denger mereka deket banget ya, kalau ada apa-apa Rizal lari ke ayahnya.”
"Ya gitu deh. Kemaren aku dateng ke sana langsung dipeluk sama Rizal dan dia nangis di pelukanku. Aku bener-bener nggak tega lihat dia. Aku bisa ikutan nangis Dik." aku lebih suka dipanggilnya Dik seperti ini.
"Udah-udah jangan nangis lagi, hihi. Jadilah sahabat yang baik untuk dia."
"Belakangan ini Rizal berubah. Biasanya dia kalo sama aku ceria, seneng, tapi kemarin dia ke rumahku kelihatan murung. Disuruh makan minum nggak mau."
"Terus... Terus gimana lagi?" tanyaku penasaran.
"Biasanya juga kalo main dia betah sampe malem, tapi kemarin di rumah Shila cuma sampe jam 9. Paginya sebelum ayahnya pergi dia juga dibawain bekal sama bundanya, padahal biasanya nggak pernah." aku berusaha menjadi pendengar yang baik.
"2 hari sebelum kepergian ayahnya, Rizal juga sempet minta dipamitin nggak bisa ikut latihan sore katanya perasaannya nggak enak gitu. Beberapa hari selanjutnya aku harus latihan tanpa dia?!" katanya sambil memasang wajah agak cemberut.
"Yaudah. Semua udah terjadi, sekarang biar berjalan seperti sedia kala. Kamu sama Shila tetep harus terus dukung dan kasih motivasi dia ya. Kalian berdua sangat dibutuhin Rizal." kataku sambil menepuk punggung tangannya yang sedari tadi diletakkan di atas lututnya.
"Iya sayang" jawabnya sambil menarik sudut kecil di bibirnya hingga aku lihat senyum lebar dari wajahnya. Lama tak kulihat senyum darinya. Subhanallah betapa mulianya hati anak lelaki di sampingku ini. Shila keluar bersamaan dengan ibunya dan memberikan sedikit wejangan.
"Nanti kalau Bima pulang kalian ikut pulang aja."
Karena hari ini jadwalnya Bima latihan, dan apa boleh buat. Shila lalu mengiyakan saja dengan wajah tertekuk.
"Pokoknya nanti nggak usah lama-lama. Bima kan juga mau tugas." sambil tertawa kecil.
"Aduh bu, mau tugas sama pacarnya kok." kataku lirih agar tak terdengar ibu Shila.

Tepat di samping rumahnya, kue sudah dipersiapkan dengan segala perlengkapannya dan tak lama kemudian Rizal keluar.
"Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday Rizal"
Kami bernyanyi kecil namun dengan penuh keyakinan bahwa ini akan penuh makna. Bunda Rizal mendengar suara-suara dari luar langsung menyambut hangat dan mempersilahkan masuk. Bima memimpin ke dalam. Tiba-tiba beliau memeluk Bima sambil meneteskan air matanya.
"Minta doa buat Rizal ya mas Bima, semoga Allah selalu melindunginya dalam meraih citanya. Bantu Rizal ya mas biar dia kuat." katanya penuh harap.
Iya pasti Bu, Bima selalu bantu dia, insyaallah."
"Sering-sering maen ke sini temenin Rizal ya mas."
"Oh iya Bu, siap...hehe"
Tak sampai hati aku mendengar percakapan itu. Begitu kuat wanita yang kini telah hidup sendiri menghidupi keduanya anaknya. Beliau memang orang yang sangat hebat. Meminta orang lain untuk memberikan dukungan pada putra bungsu kesayangannya, padahal beliau sendiri sangat membutuhkan kekuatan dari orang lain. Beliau memotivasiku untuk menjadi perempuan yang begitu tegar dan kuat dalam mengahadapi pahitnya hidup ini.
Suasana menyedihkan kini tak lagi menghiasi setiap sudut di rumah megah ini. Harus kuakui Bima memang paling pandai mengubah suasana memanas dengan lawakan-lawakan khas darinya. Bima menyanyikan lagu potong kue itu sendirian tanpa memperdulikan anak-anak kecil yang bengong melihatnya sedari tadi. Kemudian Rizal mengambil pisau dan piring kecil-kecil untuk memotong blackforest kesetiaan itu. Potongan pertama diberikan pada sang bunda yang tengah duduk bersama keluarga besar.
"Ini buat bunda. Kita pasti bisa bunda."
"Makasih sayang." jawabnya sambil mencium kening sang putra.
"Mas mbak ini yang ulang tahun belum mandi lho."
"Nggak mandi aja tetep manis kok bu." sahut Bima.
"Tuh kan kalau senyum tambah manis." lanjut Shila.
"Jangan menunggu bahagia untuk tersenyum, tapi tersenyumlah untuk bahagia. Karena senyuman adalah lengkungan yang meluruskan banyak hal yang bengkok." kataku.
Blackforest kesetiaan? Ya aku menamainya sendiri blackforest kesetiaan untuk simbol bahwa kita yang sedang berada di sini menjadi orang-orang yang super setia. Setia kepada siapapun, apapun, kapanpun, dan dimanapun. Termasuk setia untuk sahabat sendiri karena dengan peristiwa seperti ini aku merasa persahabatan kami terasa lebih manis seperti blackforest ini juga.
"Bim kalo pulang sekolah atau lagi kosong maen ke sini ya. Nyewa PS gitu."
"Okesiap. Aku selalu ada buat kamu Rizalku. Bima mengatasi masalah tanpa massalah."
"Itu pegadaian Bima. Ah kamu ini."
"Nggak papa dong. Biar nggak krik..krik juga kan?"
"Make me so envy! Aku juga mau diajak maen PS." timpalku.
"Nah kalau aku kan cewek, mau disewain apa dong?" gantian Shila yang nimbrung. Sambil mendekat dan memberikan sesuap kue yang telah dipotongkan untuk Shila.
"Ini lagi bikin envy. Sosweetnya bukan main" i said to myself. Tawa kami terpecah. Tanpa sengaja aku melihatnya sekali dua kali memandang foto sang ayah bunda yang dipajang di ruang tamunya. Hatiku miris.
Kita semua terlarut dalam keceriaan sore ini hingga Bima merelakan latihannya hanya demi Rizal seorang. Di tengah-tengah Bima menceritakan kisah di masa kecilnya, ada seorang laki-laki paruh baya menghampiri kami. Rizal memberikan potongan kue pada kakek tua itu dan menyuruhnya untuk duduk. Memang kelihatan kasihan sekali lelaki tua itu. Dengan kaosnya yang robek-robek dan sandal seadanya. Tetapi ada suara dari perempuan di seberang sana memanggil Rizal.
"Mas Rizal itu suruh pulang aja Mbahnya."
"Nggak papa mbak, biar di sini aja."
"Nanti ganggu mas Rizal sama temennya itu! Mbah pulang sana!" katanya agak menggertak.
Setelah menghabiskan kuenya tadi, Rizal menyuruhnya pulang dengan santun.
"Mbah itu suruh pulang udah dicari anaknya!" dengan wajah polos kakeknya pergi meninggalkan tempat itu.
"Mbah itu katanya maling. Makanya tadi disuruh pergi aja." semua terheran.
"Tapi kalau dia baik sama aku, aku juga baik sama dia. Meskipun kenyataannya dia itu maling yang selalu bikin warga sini resah. Waktu ayah masih ada dia sering di depan rumah sini, kadang juga dikasih uang sama ayahku." kami hanya mengangguk dan menunggu cerita Rizal selanjutnya.
"Ayah itu sama anaknya nggak pernah marah-marah. Kalaupun marah beliau pasti marah mendidik."
"Iya Zal, orangtua yang baik harusnya gitu. Kaya ayahku juga hehe." kata Bima menyetujuinya.
“Zal, setiap peristiwa yang menimpa kita itu pasti banyak hikmah positifnya. Tuhan sedang menguji kesabaran dan ketegaranmu dalam menghadapi cobaannya.
"Kemaren itu ayah nonton di TV ada joget-joget kaya kita kalo di lapangan itu terus langsung manggil aku Bim."
"Naaaah kalian nggak tahu kan kalo di lapangan kita suka joget-joget gaje. Sampe udah dihafalin tuh sama penontonnya." tanya Bima sambil mencibiriku dengan Shila. Aku hanya bergeleng kepala. Shila malah tertawa bahagia.
"Oh iya Bim waktu kita tanding di lapangan sebelah rumahmu itu ternyata ayah nonton sama bunda, Kak Dina juga."
"Iya Zal. Aku juga sempet lihat. Kamu boleh kok panggil ayahku dengan sebutan ayah. Anggap saja seperti ayahmu sendiri."
"Pokoknya sebelum pergi, ayah selalu nyempetin kegiatan yang biasanya sudah jarang beliau lakuin. Sepertinya aku juga udah diberikan rambu-rambu dengan perasaan-perasaan aneh."
Tiba-tiba Kak Dina datang dan merangkul pundak Rizal dengan posisi berdiri.
“Aku mau kuenya boleh ya. Eh nggak jadi ah, tinggal dikit.” candanya.
“Sungguh cantik dan manis seorang mahasiswi UII jurusan hukum ini.” kataku dalam hati. matanya yang sipit dan masih terlihat sembam karena tangisannya itu membuatku justru tertarik untuk memandangnya lebih kuat. Betapa hebatnya dia menjadi seorang kakak yang baik, sedangkan aku merasa belum bisa sempurna selama aku mempunyai adik sedarahku. Aku ingin belajar banyak tentang arti saudara sedarah dengannya. Dengan seorang yang selalu berusaha menjaga dan melindunginya.
Sudah semakin sore dan masih banyak tamu yang berdatangan. Untuk kali ini, seorang perempuan yang tak kukenal tiba-tiba langsung memeluk Rizal sambil menangis. Aku nyeletuk,
"Cieeee udah nggak kesetrum nih yeeee."
"Siapa yang kamu maksud? Aku ya? Santai aja sekarang."
Bima angkat bicara, "Yakin saja semua peristiwa selalu ada banyak hikmah positifnya yang bisa kita ambil. Rasakan perubahannya setelah terjadi seperti ini Zal. Baru sekarang kan kita kumpul berempat gini. Kita bisa jadi lebih dekat."
“Masih akan ada banyak lagi perubahan dalam diri kamu sayang, dan kamu harus memahami itu semua perubahan positf.” sambung Shila.
"Kalau kamu masih murung dan tidak bersemangat, ayah pasti sedih melihatmu dari atas sana."
"Di sepanjang perjalanan, kita selalu menghantam kerikil bahkan batu sungai yang sangat besar. Salah satu cara agar kamu selamat darinya yaitu hanya dengan melewatinya." aku menambahkan.
"You have to stay strong! Move on! And keep smileeeee."
Shila menuyusul, "Go go go! Fighting sayang, semangat yaaa."
Aku yang terakhir, "Stay cool ya Zal, keep struggling. Make your move!"
Everthings gonna be ok sahabat pacarku, pacar sahabatku.
Awan sungguh indah saat dipayungi lembayung senja. Kumandang adzan maghrib menjelang malam bergema di celah-celah dinding. Pepohonan menari kesana kemari karena tertiup angin seolah ikut bersujud. Aku, Shila, dan Bima pulang meninggalkan rumah Rizal, sambil jalan Bima bercerita kembali.
"Kemaren ibuku aja sampe ikutan nangis Dik, waktu dapet kabar ayahnya Rizal meninggal."
"Beliau udah menganggap dia selayaknya adikmu sendiri Kak Bima. Wajar saja kan."
Tiba-tiba dia merogoh handphone di saku celananya.
"Aduh disms Pak Heri nih, nanyain kenapa nggak latihan." bukannya di balas malah tertawa cekikikan dan memasukkan handphonenya kembali ke saku celana.           
                                               
-TAMAT-

Selamat ulang tahun @Ryaahiday semoga panjang umur, sehat selalu, makin dewasa yaaa. Yang pasti makin cantik, pokoknya semua yang baik-baik deh. Ini kadonya dari aku ya, maafin ini jelek banget, alay banget, nggak jelas banget. Seraaaaah -_- Ohya ini aku ngucapin di H-1 nggak papa ya takutnya besok udah nggak bisa ngucapin *eh :D happy birthday to you! Dont forget me! Longlast sama mas @JaluPinoko yaah! Loveyou ({})
And than ucapan terimakasih yang sebanyak-banyaknya, sedalam-dalamnya, setinggi-tingginya *blablabla* untuk Bima, Shila, dan juga Rizal yang menginspirasiku bikin cerita awut-awutan ini. Jangan marahin aku kalo bikin kesel kalian plissssss aku hanya manusia biasa tak luput dari dosa *CRBT*
Ohya. Makasih juga buat @weniwidyaa, @nikinikuuu, @tifa_lifta yang udah bantu ngedit & nungguin hasil ceritanya. Pokoknya makasih banget lah. Apalagi yang udah mau nyempetin baca ini, beribu-ribu makasih aku ucapin. Nah kalo ada yang comment *misal* aku tambahin jadi bermilyar-milyar makasih! Pokoknya gitu!