Nama : Fikrie Noor Aisyah
No. Kelas : 01 / XE
Persiapan Menulis Cerpen
- Tema : Persahabatan
- Tokoh : - Aku (Raisa)
- Bima
- Shila
- Rizal
- Ibu Shila
- Bunda
Rizal
- Kak Dina
c.
Setting : Tempat : Sekolah, Rumahku, Rumah
Rizal, Pemakaman, Rumah Shila.
Waktu
: Pagi, siang, sore hari.
Suasana
: Mengharukan, menyedihkan, menggembirakan.
- Sudut
pandang : Orang pertama
serba tahu.
- Konflik : Ketika tiba-tiba Ayah Rizal dikabarkan meninggal dan
membuat semuanya menjadi berubah. Termasuk kehidupan Rizal yang tak
seindah dahulu tanpa kehadiran ayahnya. Dia tak seceria seperti sedia
kala. Namun dengan peristiwa ini persahabatannya denganku dan Bima menjadi terasa semakin erat.
- Peristiwa : Aku
mempunyai pacar bernama Bima. Aku juga mempunyai sahabat bernama Shila
yang tak lain adalah sahabat pacarku. Bima mempunyai sahabat bernama Rizal
dan tak lain juga dia adalah pacar Shila. Kami berempat menjalin sebuah
persahabatan. Suatu hari Ayah Rizal meninggal dunia 3 hari sebelum Rizal
ulang tahun. Kami pun memberikan banyak dukungan padanya. Saat tiba di
hari ulang tahunnya kami juga memberikannya kejutan
kecil. Sejak saat itu juga, persahabatan kami menjadi semakin erat.
- Kerangka : 1.
Aku mengenal Bima dan berpacaran dengannya.
2. Aku mengenal
dan bersahabat dengan kedua sahabat Bima yaitu Shila dan Rizal.
3. Kabar mengejutkan
dari keluarga Rizal bahwanya ayahnya meninggal.
4. Takziah ke
rumah Rizal bersaama Shila dan Bima.
5. Memberikan
kejutan kepada Rizal di hari ulang tahunnya.
SELAMAT MEMBACA J
Sahabat Pacarku, Pacar Sahabatku
Sebut saja dia Bima. Bima adalah temanku sejak duduk di
bangku kelas 1 SMP. Sejak itu pula kita dekat, lebih dekat, semakin dekat dan
sangat dekat sehingga menimbulkan rasa empati, juga rasa nyaman saat bersamanya.
Akhirnya kita mempunyai sebuah relasi lebih dari sekedar pertemanan yang entah
orang lain menyebutnya sebagai apa. Sampai saat ini pun masih seperti
itu dan insyaallah akan terus seperti itu. Seiring berjalannya waktu aku
mengetahui sedikit banyak hal tentang latar belakangnya. Mulai dari keluarga, saudara,
sahabat dan teman dekatnya yang satu ini, Shila.
Pertama kali aku mengenal Shila dari
foto-foto mereka dengan teman-temannya yang lain tersebar di jejaring sosial,
facebook. Lama kelamaan kitapun berteman akrab dan bersahabat dekat. Begitu juga dengan hubungan
Shila dengan kekasihnya yang
biasa dipanggil Rizal, tak lain dan tak bukan Rizal ini adalah sahabat dekat Bima. Dunia terasa sempit ya. Aku rasa Bima dan Rizal sekarang menjadi semakin
dekat. Kedekatannya
bak pinang dibelah menjadi dua saja. Kemanapun perginya mereka pasti selalu berdua. Karena saat ini mereka juga
satu kampus SMK mau
tidak mau banyak kegiatan yang memaksanya untuk bersama-sama termasuk juga
kegiatan klub yang mereka ikuti sejak masih SMP. Yang paling aku suka dari cara mereka
berteman, mereka selalu mencoba untuk menjadi pahlawan untuk sahabatnya
sendiri. Belum
lama ini keduanya mengikuti seleksi PORDA Provinsi, namun dengan sangat terpaksa
pelatih tak meloloskan Bima hanya karena permasalahan tahun
kelahiran. Bima
sangat kecewa dengan keputusan itu. Hingga akhirnya ia tak mampu membendung air matanya. Sepulang latihan, Rizal menemui Bima dan menghiburnya sebisa
mungkin sampai
Bima
bisa
benar-benar tertawa lepas melupakan beban yang dipanggulnya sekarang.
Bel pulang sekolah berbunyi dengan nyaringnya, tapi aku masih
malas-malasan untuk pulang. Kutatap benda kecil tepat di depan pandanganku. Monkey, si gantungan kunci
motor kesayanganku. Biasanya aku selalu bersemangat untuk pulang. Tapi tidak kali ini, lapangan upacara terlihat
basah setelah diguyur hujan dengan derasnya. Lalu tiba-tiba aku berdiri dengan
tegap dan mulai berlari kecil menuju tempat parkir. Agak lama aku memutar bola
mataku karena aku lupa menempatkan motorku di sebelah mana. Nah itu dia! Aku segera menghampirinya
dan buru-buru membuka bagasi motor. Ada 2 pesan dari nomor baru. Open messages.
Innalillahi
wa innailaihi raji'un. Kataku lirih. Raut wajahku langsung berubah. Panik. Shock. Terkejut. Tanpa pikir panjang lagi
aku bergegas meninggalkan sekolah. Aku keluar dari gerbang sekolah tanpa
jas hujan padahal hujan masih lumayan deras. Baru beberapa meter meninggalkan
sekolah aku merasakan tubuhku gemetaran dan basah kuyup. Akhirnya aku memutuskan
untuk berhenti dan mengenakan jas hujan. Sebenarnya aku tak pernah bertemu
langsung dengan beliau dan bisa dibilang aku kenal Rizal belum lama, tapi aku bisa merasakannya. Aku menganggap Rizal sahabatku sendiri dengan
salah satu alasan sahabat pacarku, pacar sahabatku.
Sesampainya di rumah aku melepas seragamku. Aku terdiam tak berani
bergeming. Duduk merangkul
lutut yang tertekuk dan bersandar di kursi ruang tamu sambil mendengarkan suara hujan
dan sesekali mendengar handphone
berdering. Akhirnya Bima membalas pesanku.
From : Bimabimbim
Brsn
dari rmh Rizal. Ikutan sdh aku :(
To : Bimabimbim
Nonono!
Bkn gitu caranya. Rizal need your smile ! Km harus semangaaaaat
:-)
From : Bimabimbim
Dia
kasihan bgt, aku gak tega :(
To : Bimabimbim
Makdrit.
Aku turut bela sungkawa ya. Pkoknya km gak blh ikutan lemah di depan dia.
From : Bimabimbim
Makasih
sayang.. Iya
To : Bimabimbim
Aku
yakin km pasti udah tau apa yg harus km lakukan. Do the best Bimaaa :*
From : Bimabimbim
Okedeh sayangku :-)
Hujan di hari kemarin yang tak kunjung reda hingga malam larut
membuat jenazah AKP Sunu Pranowo di makamkan hari ini juga
pukul 10.00 dengan upacara kemiliteran. Para pelayat telah berdatangan silih
berganti. Saking
banyaknya, tenda yang didirikan tak mampu menampung sehingga ada yang hanya
duduk berjajar memenuhi jalan kecil di depan rumah duka. Aku duduk di sebelah
kanan Shila. Sesekali dia melirik BB di tangan mungilnya. Tanpa disadari
ada pesan dari Bima yang memintanya untuk segera menemui Rizal. Kita bergegas
pergi dan mencari
tempat di mana mereka berada. Setelah menemui keduanya, Shila duduk
mendekat dan meraih bahu Rizal berusaha menenangkannnya. Baru saja kita duduk,
tiba-tiba ada seorang perempuan dengan wajah keibu-ibuan mendekati Rizal memintanya
untuk segera masuk ke rumah karena jam sudah menunjukkan pukul 09:55. Artinya,
jenazah akan segera dimakamkan. Sementara Rizal berjalan meninggalkan
kami, Bima dan Shila sibuk berdebat, akupun sedikit pusing untuk melerainya
karena mereka sama-sama tak mau kalah. Akhirnya jarum jam di tanganku sudah
menunjukkan pukul 10:00 WIB. Pembawa acara segera membacakan
susunan acara satu demi satu. Inspektur upacara juga telah berdiri dengan
gagahnya. Tapi tak
segagah lelaki yang berdiri di belakang peti jenazah. Kulihat sosok itu
dirangkul 2 sanak keluarganya. Dia lemah tanpa daya. Di sebelahnya ada 2 orang
wanita lagi yang tak henti-hentinya menangis. Usai upacara kemiliteran melepas
kepergian sang komandan perwira selesai, saatnya peti jenazah dibawa ke dalam
ambulans untuk selanjutnya diantarkan ke tempat istirahat terakhirnya. Tak ada yang menyangka beliau akan
pergi secepat ini. Dari jauh malaikat maut telah bersiap dengan gagahnya untuk
menjemput sang pemimpin yang sangat
berkarisma itu. Sosok yang begitu berarti bagi orang-orang yang kini
ditinggalkannya bersama seluruh pesan, harapan dan kenangannya.
Isak tangis menghiasi tempat ini. Dari kejauhan aku melihat Rizal dan kakaknya, Kak Dina. Mereka duduk berdampingan
menatap lurus ke arah lubang galian yang telah dipersiapkan oleh si petugas makam. Aku berjalan mengikuti Shila ke arah Bima. Aku menggenggam tangannya
erat-erat. Sekali
waktu aku menatap wajah cantiknya. Aku
mengerti matanya masih bisa menahan air matanya agar tak keluar. Ia melemparkan senyum
manisnya kepadaku, aku membalasnya dengan penuh keyakinan
"Rizal
pasti kuat, kamu juga harus kuat Shil. Semua pasti bisa. Kasih senyum ini buat Rizal"
Kemudian
ia tak mau menatapku kembali. Dia terus memandangi
sekitar. Aku
merangkulnya dan dia mencoba meraih tanganku yang ada di pundaknya. Aku menggelengkan kepala ketika peluru
dilepaskan oleh 6
lelaki bertubuh kekar itu.
"Almarhum AKP. Sunu Pranowo dilahirkan pada
tanggal 4 September
1967 dan meninggal pukul 10:20 pada tanggal 18 Mei 2013 dikarenakan sakit." kata seorang perempuan yang
mengatur jalannya upacara pemakaman.
"Beliau meninggalkan seorang
isteri, seorang putri, dan seorang putra dalam usia 45 tahun.”
Tanganku
merangkul pundak Shila dan aku bersenandug kecil menyanyikan lagu yang diajarkan
oleh sahabat baikku sewaktu masih berseragam putih biru.
Namun
sayang kita takkan bertemu kembali
Terpisahkan
dimensi ruang dan waktu
Membuathatiku
selalu rindu
Merindukan
dirimu duhai komandanku
Ayah
dengarkanlah
Untaa
kata ini hanya untukmu
Sebuah
doa dari diriku
Semoga
dirimu bahagia di sana
Aku
kan berdoa
Memohon
pada Tuhan Yang Esa
Semoga
amal-amal baikmu
Tak
sia-sia kala engkau di sana
Ayah
slamat tinggal
S’lamat jalan dirimu tak kan kulupa
Kan
kuingat slalu dalam hatiku
Semoga lagu ini dapat mewakilkan sejuta perasaan Rizal dan Kak Dina. Lagu ini juga aku
nyanyikan ketika pemakaman nenek ibuku hampir satu setengah tahun yang lalu.
Saat
prosesi pemasukan jenazah ke liang lahat semua orang panik melihat Bunda Rizal sudah tak sadarkan diri
kemudian
langsung di bawa menjauh dari lokasi. Beberapa saat kemudian
suasana berubah menjadi hening dan terdengar seseorang berbicara dengan
lantang. Rizal behasil memecahkan keheningan.
"Aku janji mau jagain Kakak sama Bunda.”
Semua
yang ada di sana langsung berlomba-lomba meneteskan air matanya.
"Selamat jalan komandan.” katanya lagi.
Tak terasa cairan bening mengalir membanjiri pipiku. Aku tak
kuasa menahannya. Tetapi aku buru-buru menghapusnya. Shila mencoba mendekatiku
dan aku langsung merangkulnya. Kuihat dia masih saja menangis. Akupun segera mengusapnya hanya dengan
jari-jariku karena lupa membawa tissue, sehelai pun.
Saat kamu menangis aku akan selalu
menghapuskan air mata kamu. Saat kamu lemah aku akan menguatkanmu. Saat kamu
pergi yang akan aku lakukan hanya menunggumu kembali. Saat kamu gagal aku akan membuatmu berhasil. Aku ingin menjadi
seseorang yang terbaik untukmu meski banyak orang di luar sana yang jauh lebih
baik dariku. Aku hanya ingin kalian
paham tentang arti ketulusan dan juga keikhlasan berbagi.
Setelah selesai, semua berjalan meninggalkan pemakaman
termasuk Rizal.
Kulihat dia yang
bercucuran keringat masih sempat menengok ke belakang karena pundaknya di tepuk
Bima.
"Kamu pasti bisa. Kamu kuat Zal!!!"
Aku
dan Shila menghampiri Rizal yang masih berdiri di tepi jalanan. Aku berjabat
tangan dengannya. "Fighting ya" kataku sambil menatapnya.
Dia hanya membalas dengan senyum, begitu juga dengan Shila yang entah menasihatinya
apa. Aku suka senyum palsunya. Selalu berusaha tegar di hadapan orang lain
padahal yang sesungguhnya terjadi hatinya berkecamuk, pikirannya campur aduk.
"Ya Allah dia pasti kuat.
Sahabat pacarku dan pacar sahabatku be
strong yaaa!!" kataku dalam hati.
21 Mei 2013
Happy new year sahabat pacarku dan pacar
sahabatku. Pagi ini embun masih sama seperti yang kemarin. Mentari pun masih
mentari yang sama. Aku sempatkan membuka akun facebook yang belakangan ini
sudah jarang aku rawat. Aku mengirimkan sesuatu di dinding Rizal, mengucapkan
selamat ulang tahun untuknya. Setelah itu aku segera log out dan beralih ke twitter. Aku mengintip timeline Kak Dina, satu-satunya kakak
perempuan Rizal. Dan apa yang aku dapatkan? Rangkaian kalimat yang membuatku
terenyuh dan tersentuh.
@pratidinaanja
~ selamat pagi sunu junior semangat sekolah yok, hap hap hap ! Kamu keren
banget :*
@pratidinaanja
~ jangan melihat kepergian ayah adalah sebuah kado, tapi apa yang ayah
tinggalkan untuk kita adalah yang terindah, be a strong
boy !
@pratidinaanja
~ selamat ulang tahun stong boy Rizal makin dewasa, makin tanggung
jawab, sehat, sukses, pantang nyerah, bisa pasti bisa :)
@pratidinaanja
~ untuk mengucapkan selamat ulang tahun pun rasanya aku ga kuat, aku sayang
kamu dik, kita bisa ya :')
@pratidinaanja ~ 10 menit lagi adik
ultah yah, aku ga tau aku harus gimana.
Blackforest cantik sudah di tangan.
Adzan telah berkumandang, aku segera menghadap Tuhanku. Setelah itu aku diajak duduk
kembali di sofa ruang tamu. Beberapa lama menunggu Bima melaksanakan kewajibannya
sebagai makhluk yang taat pada Tuhan dan mengisi perutnya, akhirnya dia datang juga. Selagi
menunggu Shila mengenakan jilbabnya, aku dan Bima membicarakan suatu hal.
"Salah nggak sih kalau kita
ke sana rame-rame padahal di sana masih berkabung." tanyanya meminta pendapatku.
"Tergantung niat kita aja.
Siapa juga yang mau rame-rame? Cuma mau ngasih blackforestnya ini sebagai ucapan
selamat ulangtahun kan?"
"Iya juga sih. Tadi malem
aku sms dia jam berapa ya lupa aku. Kira-kira 12 lebih deh."
"Cieee so sweetnya. Bim mau
tanya dong. Emang seberapa deket sih Rizal sama ayahnya?"
"Sedeket aku sama kamu
sekarang ini Sa, hehe."
"Bimaaaaa
serius! Denger-denger mereka deket banget ya, kalau ada apa-apa Rizal lari ke
ayahnya.”
"Ya gitu deh. Kemaren aku
dateng ke sana langsung dipeluk sama Rizal dan dia nangis di pelukanku. Aku
bener-bener nggak tega lihat dia. Aku bisa ikutan nangis Dik." aku
lebih suka dipanggilnya Dik seperti ini.
"Udah-udah jangan nangis lagi,
hihi. Jadilah sahabat yang baik untuk dia."
"Belakangan ini Rizal
berubah. Biasanya dia kalo sama aku ceria, seneng, tapi kemarin dia ke rumahku
kelihatan murung. Disuruh makan minum nggak mau."
"Terus... Terus gimana lagi?"
tanyaku penasaran.
"Biasanya juga kalo main dia
betah sampe malem, tapi kemarin di rumah Shila cuma sampe jam 9. Paginya
sebelum ayahnya pergi dia juga dibawain bekal sama bundanya, padahal biasanya
nggak pernah." aku berusaha menjadi pendengar yang baik.
"2
hari sebelum kepergian ayahnya, Rizal juga sempet minta dipamitin nggak bisa
ikut latihan sore katanya perasaannya nggak enak gitu. Beberapa hari selanjutnya aku harus latihan tanpa
dia?!" katanya sambil memasang wajah agak cemberut.
"Yaudah. Semua udah terjadi,
sekarang biar berjalan seperti sedia kala. Kamu sama Shila tetep harus terus
dukung dan kasih motivasi dia ya. Kalian berdua sangat dibutuhin Rizal."
kataku sambil menepuk punggung tangannya yang sedari tadi diletakkan di atas
lututnya.
"Iya sayang" jawabnya
sambil menarik sudut kecil di bibirnya hingga aku lihat senyum lebar dari
wajahnya. Lama tak kulihat senyum darinya. Subhanallah
betapa mulianya hati anak lelaki di sampingku ini. Shila keluar bersamaan
dengan ibunya dan memberikan sedikit wejangan.
"Nanti kalau Bima pulang
kalian ikut pulang aja."
Karena
hari ini jadwalnya Bima latihan, dan apa boleh buat. Shila lalu mengiyakan saja
dengan wajah
tertekuk.
"Pokoknya nanti nggak usah
lama-lama. Bima kan juga mau tugas." sambil tertawa kecil.
"Aduh bu, mau tugas sama
pacarnya kok." kataku lirih agar tak terdengar ibu Shila.
Tepat di samping rumahnya, kue sudah dipersiapkan dengan
segala perlengkapannya dan tak lama kemudian Rizal keluar.
"Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday Rizal"
Kami
bernyanyi kecil namun dengan penuh keyakinan bahwa ini akan penuh makna. Bunda Rizal
mendengar suara-suara dari luar langsung menyambut hangat dan mempersilahkan
masuk. Bima memimpin ke dalam. Tiba-tiba beliau memeluk Bima sambil meneteskan
air matanya.
"Minta doa buat Rizal ya mas
Bima, semoga Allah
selalu melindunginya dalam meraih citanya. Bantu Rizal ya mas biar dia
kuat." katanya penuh harap.
“Iya
pasti Bu, Bima selalu bantu dia, insyaallah."
"Sering-sering maen ke sini
temenin Rizal ya mas."
"Oh iya Bu, siap...hehe"
Tak sampai hati aku mendengar
percakapan itu. Begitu kuat wanita yang kini telah hidup sendiri menghidupi
keduanya anaknya. Beliau memang orang yang sangat hebat. Meminta orang lain
untuk memberikan dukungan pada putra bungsu kesayangannya, padahal beliau
sendiri sangat membutuhkan kekuatan dari orang lain. Beliau memotivasiku untuk
menjadi perempuan yang begitu tegar dan kuat dalam mengahadapi pahitnya hidup
ini.
Suasana
menyedihkan kini tak lagi menghiasi setiap sudut di rumah megah ini. Harus kuakui
Bima memang paling pandai mengubah suasana memanas dengan lawakan-lawakan khas
darinya. Bima menyanyikan lagu potong kue itu sendirian tanpa memperdulikan
anak-anak kecil yang bengong melihatnya sedari tadi. Kemudian Rizal mengambil
pisau dan piring kecil-kecil untuk memotong blackforest kesetiaan itu. Potongan pertama diberikan
pada sang bunda yang tengah duduk bersama keluarga besar.
"Ini buat bunda. Kita pasti
bisa bunda."
"Makasih sayang."
jawabnya sambil mencium kening sang putra.
"Mas mbak ini yang ulang
tahun belum mandi lho."
"Nggak mandi aja tetep manis
kok bu." sahut Bima.
"Tuh kan kalau senyum tambah
manis." lanjut Shila.
"Jangan menunggu bahagia
untuk tersenyum, tapi tersenyumlah untuk bahagia. Karena senyuman adalah
lengkungan yang meluruskan banyak hal yang bengkok." kataku.
Blackforest kesetiaan? Ya aku
menamainya sendiri blackforest
kesetiaan untuk simbol bahwa kita yang sedang berada di sini menjadi
orang-orang yang super setia. Setia kepada siapapun, apapun, kapanpun, dan
dimanapun. Termasuk setia untuk sahabat sendiri karena dengan peristiwa seperti
ini aku merasa persahabatan kami terasa lebih manis seperti blackforest ini juga.
"Bim kalo pulang sekolah
atau lagi kosong maen ke sini ya. Nyewa PS gitu."
"Okesiap. Aku selalu ada
buat kamu Rizalku. Bima mengatasi masalah tanpa massalah."
"Itu pegadaian Bima. Ah kamu
ini."
"Nggak papa dong. Biar nggak
krik..krik juga kan?"
"Make me so envy! Aku juga mau diajak maen
PS." timpalku.
"Nah kalau aku kan cewek,
mau disewain apa dong?" gantian Shila yang nimbrung. Sambil mendekat dan
memberikan sesuap kue yang telah dipotongkan untuk Shila.
"Ini lagi bikin envy. Sosweetnya bukan main" i
said to myself. Tawa kami terpecah. Tanpa sengaja aku melihatnya sekali dua
kali memandang foto sang ayah bunda yang dipajang di ruang tamunya. Hatiku
miris.
Kita semua terlarut dalam keceriaan sore ini hingga Bima
merelakan latihannya hanya demi Rizal seorang. Di tengah-tengah Bima
menceritakan kisah di masa kecilnya, ada seorang laki-laki paruh baya
menghampiri kami. Rizal memberikan potongan kue pada kakek tua itu dan
menyuruhnya untuk duduk. Memang kelihatan kasihan sekali lelaki tua itu. Dengan
kaosnya yang robek-robek dan sandal seadanya. Tetapi ada suara dari perempuan di
seberang sana memanggil Rizal.
"Mas Rizal itu suruh pulang
aja Mbahnya."
"Nggak papa mbak, biar di
sini aja."
"Nanti ganggu mas Rizal sama
temennya itu! Mbah pulang sana!" katanya agak menggertak.
Setelah
menghabiskan kuenya tadi, Rizal menyuruhnya pulang dengan santun.
"Mbah itu suruh pulang udah
dicari anaknya!" dengan wajah polos kakeknya pergi meninggalkan tempat itu.
"Mbah itu katanya maling.
Makanya tadi disuruh pergi aja." semua terheran.
"Tapi kalau dia baik sama
aku, aku juga baik sama dia. Meskipun kenyataannya dia itu maling yang selalu
bikin warga sini resah. Waktu ayah masih ada dia sering di depan rumah sini,
kadang juga dikasih uang sama ayahku." kami hanya mengangguk dan menunggu
cerita Rizal selanjutnya.
"Ayah itu sama anaknya nggak
pernah marah-marah. Kalaupun marah beliau pasti marah mendidik."
"Iya Zal, orangtua yang baik
harusnya gitu. Kaya ayahku juga hehe." kata Bima menyetujuinya.
“Zal, setiap peristiwa yang menimpa kita itu pasti banyak hikmah positifnya.
Tuhan sedang menguji kesabaran dan ketegaranmu dalam menghadapi cobaannya.
"Kemaren itu ayah nonton di TV ada joget-joget kaya kita
kalo di lapangan itu terus langsung manggil aku Bim."
"Naaaah kalian nggak tahu
kan kalo di lapangan kita suka joget-joget gaje. Sampe udah dihafalin tuh sama
penontonnya." tanya Bima sambil mencibiriku dengan Shila. Aku hanya
bergeleng kepala. Shila malah tertawa bahagia.
"Oh iya Bim waktu kita tanding di
lapangan sebelah rumahmu itu ternyata ayah nonton sama bunda, Kak Dina
juga."
"Iya Zal. Aku juga sempet lihat.
Kamu boleh kok panggil ayahku dengan sebutan ayah. Anggap saja seperti ayahmu
sendiri."
"Pokoknya sebelum pergi, ayah selalu nyempetin
kegiatan yang biasanya sudah jarang beliau lakuin. Sepertinya aku juga udah
diberikan rambu-rambu dengan perasaan-perasaan aneh."
Tiba-tiba Kak Dina datang dan merangkul pundak Rizal
dengan posisi berdiri.
“Aku mau kuenya boleh ya. Eh nggak jadi ah, tinggal dikit.” candanya.
“Sungguh cantik dan manis seorang mahasiswi UII jurusan hukum ini.” kataku
dalam hati. matanya yang sipit dan masih terlihat sembam karena tangisannya itu
membuatku justru tertarik untuk memandangnya lebih kuat. Betapa hebatnya dia
menjadi seorang kakak yang baik, sedangkan aku merasa belum bisa sempurna
selama aku mempunyai adik sedarahku. Aku ingin belajar banyak tentang arti
saudara sedarah dengannya. Dengan seorang yang selalu berusaha menjaga dan
melindunginya.
Sudah semakin sore dan masih banyak tamu yang berdatangan. Untuk
kali ini, seorang perempuan yang tak kukenal tiba-tiba langsung memeluk Rizal sambil menangis. Aku
nyeletuk,
"Cieeee udah nggak kesetrum
nih yeeee."
"Siapa yang kamu maksud? Aku
ya? Santai aja sekarang."
Bima
angkat bicara, "Yakin saja semua peristiwa selalu ada banyak hikmah positifnya
yang bisa kita ambil. Rasakan perubahannya setelah terjadi seperti ini Zal. Baru sekarang
kan kita kumpul berempat gini. Kita bisa jadi lebih dekat."
“Masih akan ada banyak lagi perubahan dalam diri kamu sayang, dan kamu
harus memahami itu semua perubahan positf.” sambung Shila.
"Kalau kamu masih murung dan
tidak bersemangat, ayah pasti sedih melihatmu dari atas sana."
"Di sepanjang perjalanan, kita selalu
menghantam kerikil bahkan batu sungai yang sangat besar. Salah satu cara agar
kamu selamat darinya yaitu hanya dengan melewatinya." aku
menambahkan.
"You have to stay strong!
Move on! And keep smileeeee."
Shila
menuyusul, "Go go go! Fighting sayang, semangat yaaa."
Aku
yang terakhir, "Stay cool ya Zal, keep struggling.
Make your move!"
Everthings gonna be ok sahabat pacarku, pacar sahabatku.
Awan sungguh indah saat dipayungi lembayung senja. Kumandang
adzan maghrib menjelang malam bergema di celah-celah dinding. Pepohonan menari
kesana kemari karena tertiup angin seolah ikut bersujud. Aku, Shila, dan Bima
pulang meninggalkan rumah Rizal, sambil jalan Bima bercerita kembali.
"Kemaren ibuku aja sampe
ikutan nangis Dik, waktu dapet kabar ayahnya Rizal
meninggal."
"Beliau udah menganggap dia
selayaknya adikmu sendiri Kak Bima. Wajar saja kan."
Tiba-tiba
dia merogoh handphone di saku
celananya.
"Aduh disms Pak Heri nih, nanyain kenapa
nggak latihan." bukannya di balas malah tertawa cekikikan dan memasukkan handphonenya kembali ke saku celana.
-TAMAT-
Selamat ulang tahun @Ryaahiday semoga
panjang umur, sehat selalu, makin dewasa yaaa. Yang pasti makin cantik,
pokoknya semua yang baik-baik deh. Ini kadonya dari aku ya, maafin ini jelek
banget, alay banget, nggak jelas banget. Seraaaaah -_- Ohya ini aku ngucapin di
H-1 nggak papa ya takutnya besok udah nggak bisa ngucapin *eh :D happy birthday
to you! Dont forget me! Longlast sama mas @JaluPinoko yaah! Loveyou ({})
And than ucapan terimakasih yang
sebanyak-banyaknya, sedalam-dalamnya, setinggi-tingginya *blablabla* untuk
Bima, Shila, dan juga Rizal yang menginspirasiku bikin cerita awut-awutan ini. Jangan
marahin aku kalo bikin kesel kalian plissssss aku hanya manusia biasa tak luput
dari dosa *CRBT*
Ohya. Makasih juga buat @weniwidyaa,
@nikinikuuu, @tifa_lifta yang udah bantu ngedit & nungguin hasil ceritanya.
Pokoknya makasih banget lah. Apalagi yang udah mau nyempetin baca ini,
beribu-ribu makasih aku ucapin. Nah kalo ada yang comment *misal* aku tambahin
jadi bermilyar-milyar makasih! Pokoknya gitu!