FABER CASTELL #3 Dera.. oh Dera…
FABER CASTELL #3 Dera.. oh Dera…
Posted Facebook : 29 Oktober 2012 pukul 22:05
Hari ini mau kemana ya? Sebentar aku pikir-pikir akhirnya ketemu
juga. Siang ini ada acara di rumah Luna sama temen-temen lain. Kebetulan
Juna juga mau main ke rumah temennya yang nggak jauh dari rumah Luna.
Ambil handphone dan langsung ketik,To: Arjuna DP
Maen kermh Luna sini Jun
From: Arjuna DP
Sm siapa?
To: Arjuna DP
Bella CS
From: Arjuna DP
Ya.. bentar
Tak lama kemudian Juna datang dengan kegagahannya. Wah gede juga nyalinya tuh anak berani nyamperin ke sini hahaha. Kataku dalam hati.
“Gabung sini Jun?” ajak Andin.
“Cie yang diapelin.” Mulai deh bikin hebohnya. Kalo nggak ngrumpi, gosip ya ngecengin temen-temennya. Yeah naluri wanita -,-
Aku agak mendekat ke Andin dan berbisik.
“Biasanya kalau pergi ke rumah orang perlunya sama yang punya rumah kan. Wah berarti Juna ngapelin Luna ya? Haha…” Gubrak
“Ada yang panas nih?” ledeknya.
“Biarin.” Kataku sambil menjulurkan lidah dan meninggalkan Andin dan mendekat ke Juna.
Kenapa sih Juna nggak mau turun dari motornya? Nggak papa deh aku aja yang nyemperin Juna. Baru sebentar ngobrol dia udah pergi gara-gara aku nanya private number. Tapi aku buru-buru terus terang kalau itu nomor handphonenya Bagas teman SD dulu. Dan cerita tentang semuanya kalau intinya Bagas bilang mau nunngu aku. Maksudnya nunggu apa aku juga nggak tahu, tapi sebelumnya aku nanya pacar dia siapa. Awalnya aku nggak mau nanggepin dia, maksudnya nggak mau nanggepin berlebihan tapi nanti aku dikira sombong lagi. Perang pun dimulai. Juna pergi tanpa pamit. Melaju dengan kecepatan tinggi. Aku nggak ada niat ngejar dia, justru aku membiarkan dia pergi. Aku nggak mau dia makin sakit mendengarku. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang.
Duduk tersudut di pojok kamar. Sebenarnya dalam hati aku bertanya. What happend? What’s wrong? Aku hanya mencoba nggak ingkar janji dari komitmen yang udah dibuat aku sama Juna. Kita punya kesepakatan untuk selalu saling jujur dan terbuka. Tapi kenapa malah jadi siperti ini? Bukan ini yang aku mau Tuhan. Ah sudahlah apa gunanya aku melontarkan pertanyaan-pertanyan konyol ini. Sudahlah biarkan ini jadi pelajaran dan ambil hikmahnya saja. Lama-lama Juna juga baikan sendiri, dia cuma butuh waktu buat tenangin dirinya sendiri.
Fajar menyingsing. Sinar matahari berkilau di antara dedaunan yang masih berbias titik embun. Suara kokok ayam yang bersahutan seolah mengucap syukur menyambut hadirnya sang surya. Segera ku beranjak dari tempat tidurku. Tapi tiba-tiba terlintas di pikiranku, teringat kejadian tadi malam yang membuatku benar-benar kacau. Juna marah besar, belum mau maafin aku. Apa aku perlu bersujud di kakimu oh Juna. Tapi aku nggak boleh pesimis, semua pasti ada jalan. Kemudian, aku mengambil air suci dan memanjatkan butir demi butir do’a untuk yang Maha Segalanya. Setetes air keluar dari mata bulatku, meluncur deras ke pipi. Dan kemudian disusul tetes demi tetes air mata yang tak bisa ku tahan. Aku menggigit bibir bawah, menahan isakan-isakan kecil yang keluar dari mulutku.
Arjunaku.. Percayalah cintaku hanya untukmu. Aku mencintaimu selayaknya kamu mencintaiku. Aku tak kan pernah membiarkan seorang pun masuk dalam bingkai cinta kita. Ku tahu, Tuhan menciptakanku tuk mencintaimu. Dan Tuhan menciptakanmu tuk mencintaiku. Maafkan semua kekhilafanku Arjuna Dharma Prayogo
—–
Aku teringat sesuatu tentang masa lalu. Tepatnya baru sepekan sebelum acara Farewell Party di sela-sela waktu latihan musikal sama teman-teman. Tanpa ada undangan resmi atau enggak, Juna masuk kelas yang aku pakai buat latihan. Aku lihat, seperti orang kebingungan. Tapi memang dia lagi bingung. Pasti dia bingung cari tempat duduk, akhirnya dia asal saja duduk di belakangku. Dengan nada merayu dia bicara pelan sama Nanda.
“Geser dikit dong Na.”
Langsung saja aku nyrobot.
“Apa-apaan ini? Dateng belakangan minta enaknya.”
“Pengen deket kamu Mi.”
“Deket Dera sana ngapain deket aku?” gertakku.
Juna diam tak berkata. Aku nggak tau apa yang sedang dipikirkannya. Mungkin masih mikirin soal Dera, atau apa ya? Nggak tau deh emang masalah buat gue. Jelas masalah, sekarang aku jadi nggak bisa mikir apa-apa. Udah buntu. Setelah itu Juna tiba-tiba pergi keluar nggak tahu mau kemana. Yah kok Juna pergi sih. Jangan pulang dulu jan aku masih mau godain kamu
“Mi, Juna habis liat profil kamu nih.” Sambil menunjukkan handphonenya ke aku.
Tanpa pikir panjang, aku langsung ngejar Juna. Untung saja dia belum terlalu jauh. Aku teriak memanggil namanya sekeras mungkin biar suaraku dapat didengarakan oleh telinganya. Akhirnya dia menengok dan menatapku dengan rasa iba. Aku berdiri persis di depan pintu sambil menggigit telunjukku. Seperti orang ketakutan. Aku menghampirinya dan menarik-narik tangannya.
“Juna ikut aku bentar ya.”
“Kemana? Aku mau pulang nih.”
“Bentar aja kok.”
Tanpa sengaja, aku membawanya ke tempat yang sepi. Di samping ruangan terbuka yang biasanya menjadi tempat meletakkan barang-barang bekas. Juna berdiri menatapku tajam. Aku melihatnya agak mendongak, yah maklum aku kan jauh lebih pendek dari dia. Kenapa suasananya jadi dingin gini.
“Aku nggak suka cara Dera kaya gitu. Aku yang pacarmu aja nggak pernah ngajakin kamu main. Emang nggak ada orang lain selain kamu? Dia tau nggak sh kalo kamu udah punya pacar? Kapan sih dia nggak ganggu kamu?” Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang mengganjal. Aku ingin melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu di depan Juna. Tapi dia keburu kedua tangan lembutnya mendarat di pipiku , membuatku dengan seketika berhenti bicara.
“Maaf Jun aku salah. Nggak seharusnya aku kaya gini.”
“Lain kali percaya sama aku ya Mi. Aku nggak ada apa-apa sama Dera.”
“Tapi dianya kaya gitu. Kamu udah ganti nomer masih aja bisa dihubungin.”
“Iya nanti ganti lagi. Udah cup-cup jangan nangis.”
“Maaf ya Jun aku egois. Tapi aku sayang sama kamu.”
“Aku sayang kamu juga adek kecil.” Katanya sambil menarik tubuhku dan membawaku dalam peluknya. Dia memandangku dengan sayu sambil tersenyum. Memegang jemarijemari mungilku. Aku tak bisa berkata. Biarkan suasana tenang.
—–
Dingin. Pagi masih berkabut. Mentari masih enggan menampakkan pesonanya. Tak seperti biasanya, badanku lemas, lesu dan sedikit demam. Nanti kalau udah kena sinar matahari juga kembali lagi seperti semula, pikirku. Drrtt…drrrt handphone kunoku bergetar. Dengan malas aku meraihnya di meja kecil sebelah tempat tidurku.
From : Gea
Mi tar ak maen krmhmu ya
To : Gea
OK. Jam brp?
From : Gea
10. tunggu ak ya
To : Gea
Sipdeh
Tepat pukul 10.00 aku berangkat menjemput Gea di pertigaan jalan, sama Bella. Yah kebetulan dia main ke rumahku. Tak lama kemudian Gea datang sama temannya, Gita. Tanpa basa-basi, lets go to my sweet home.
Setelah sampai dirumah, aku mempersilahkan masuk dan menyuguhkan beberapa makanan kecil dan minum alakadarnya. Sembari menyantap hidangan –hyaaa- kita asyik ngobrol. Ternyata Gita asyik juga kalau diajak ngobrol, padahal kenalnya baru saja dia yang banyak cerita soal ini itu panjang lebar. It’s okay no problem, I like she
“Kemarin Juna minta nomornya Dera.”
Loading lama. Mungkin saking kagetnya aku jadi nggak bisa mencerna kalimat Gita.
“Apa Git? Ulangi coba.”
“Kemarin Juna minta nomornya Dera.”
“Haaaa?” handphone mana handphone? Tanpa pikir panjang aku langsung memainkan jemariku untuk mencari keterangan di TKP –huah-
To : Arjuna DP
Ngpain mt no Dera?
From : Arjuna DP
Tau dr mna Mi?
To : Arjuna DP
DITANYA MALAH BALIK NANYA
JAWAB GITU AJA SUSAH
From : Arjuna DP
Maaf sayang
Ditanya gitu aja berat banget jawabnya. Jangan mengaharap balasan dariku Jun, aku sakit. Aku merasa Juna udah nglanggar komitmen, komitmen bahwa kita harus saling jujur dan terbuka, bukankan itu hal pokok menjaga hubungan ‘pacaran’? Argh Juna jahat! Pertengakaran dingin tak terhindarkan. Berkali-kali Juna mengirim SMS , telfon sama sekali nggak aku respon. Aku asyik mendengarkan cerita Gita yang konon katanya, Dera emang seperti itu. Seperti apa? Ingin tahu? Kita lihat cupikan berikut ini.
“Temen-temenku udah banyak yang jadi korban Mi, aku juga udah.”
“Astaghfirullah haladzim” Aku melongo agak lama, tak percaya dengan ceritanya. Tapi percaya nggak percaya?
“Dan semua berakhir pisah, cuma kamu sama Juna yang enggak.”
“YaAllah jangan, aku nggak mau pisah sama Juna.”
“Pertahanin Mi jangan sampai sia-sia.”
Mendengar ceritanya saja, aku sudah merinding, bagaimana kalau aku sendiri yang mengalami? Kalau kata orang jawa ‘ora ngajab ora jaluk’. Naudzubillah -_- Siapapun orangnya nggak akan ada bisa misahin aku sama Juna lagi. Berkali-kali ada orang yang bikin hubunganku renggang, bahkan sampai berantakan. Impossible. Cuma Allah yang bisa bikin aku sama Juna pisah, aku percaya itu. Apalagi Dera, mana mungkin aku break sama Juna gara-gara Dera. Ah nggak lucu banget.
Setelah beberapa hari aku diemin Juna rasanya nggak enak juga. Allah give me opportunities to think logically. Kalau dipikir-pikir lebih dalem Juna kan baru pacarku, belum jadi suamiku –haha- ngapain aku sampai segitunya sama Juna? Dari awal kita udah punya komitmen untuk saling jujur dan terbuka. Tapi kenapa Juna nggak mau jujur? Dia baru terus terang waktu aku tanya sebab akibat gimana kalau dia minta nomornya Dera. Katanya suruhan Doni. Argh. Sepele tapi jadi gede. Juna sayang maafin aku ya. Aku baru tahu kamu selama ini jadi korban keegoisanku. Menurut buku yang barusan aku baca (Love Freak, S. Rahayo) :
Benarkah cemburu adalah tanda cintamu padanya? Omong kosong! Cemburu 100% membuktikan bahwa kamu hanya ‘mencintai’ dirimu sendiri dan bukan mencintainya. Jadi, mestinya bagaimana ketika suatu ketika kita merasa cemburu terhadap kekasih kita? Kalimat yang benar adalah seperti ini, “Sayang… maaf, aku cemburu padamu. Aku tahu ini pertanda bahwa aku masih mengutamakan kepentinganku. Tapi, aku akan terus berusaha untuk semakin mencintaimu. Aku harap dengan semakin mencintai dirimu, kecemburuanku akan semakin berkurang!”
Dari situ, aku nggak mau lagi orang yang egois. Aku juga harus mikirin perasaan orang lain, termasuk Juna. Tapi aku juga memohon di hadapan Juna,
“Apapun yang terjadi kamu harus terus terang sama aku. Aku nggak mau jadi salah paham kaya kemarin? Udah berapa kali sih kita berantem gara-gara Dera?”
“Maaf ya sayang. Janji nggak ngulangin lagi. Aku khilaf.”
“Aku cuma mau kamu jujur kok Jun. Nggak lebih. Aku nggak bakal marah kalau aku nggak denger itu dari Gita.”
“Aku belum sempet bilang Mi. Yaudah sekarang jangan marah lagi ya, jelek!”
“Junaaaaaa.. Aku capek berantem terus sama kamu.”
Menarik nafas panjang dan meletakkan kepalaku dengan hati-hati di pundak Arjuna. Untuk beberapa saat aku memejamkan mataku dan membenamkan rasa pilu di hatiku.
Jangan lepaskan genggaman tanganmu Arjunaku, ku mohon
To be continued
Assalamualaikum. Mampir ya aku. makasih buat yang udah setia nunggu #3 maaf ini baru sempet di post. Tulisannya acak-acakan juga, nglembur bikin ini lho aku ditemenin sama Arjuna :* happy 21 Jun
Ta-tha Novita Sari ditunggu FC #4 nya
30 Oktober 2012 pukul 5:28 melalui seluler · Suka
Nicky Feyy sparetim kurang e beranya krang t dut sai!haha tpi keren
30 Oktober 2012 pukul 6:02 melalui seluler · Suka
Dyeah Ayux wadaw ini kan haha aku ngerti aku ngerti
30 Oktober 2012 pukul 17:55 · Suka
Fikrie Noor Aisyah mb vit ~ keep wait, tengs
feyyek ~ efek mengantuk
gea ~ dinggo meneng wae
31 Oktober 2012 pukul 5:18 melalui seluler · Suka
Nicky Feyy hahaha mmpeng ox oe
31 Oktober 2012 pukul 5:45 melalui seluler · Suka
Dyeah Ayux Haha pastine
31 Oktober 2012 pukul 6:57 melalui seluler · Suka
Fikrie Noor Aisyah feyyek ~ kalo ada waktu sajo
gea ~ auwah
31 Oktober 2012 pukul 14:31 · Suka
Nicky Feyy po iya nueh.hahahasek
31 Oktober 2012 pukul 14:40 melalui seluler · Suka
Nida Hanifah bagus dut
31 Oktober 2012 pukul 16:52 · Suka
Fikrie Noor Aisyah feyyek ~ gakding, diselakke ha
nidazha ~ tengs lho za
31 Oktober 2012 pukul 19:22 melalui seluler · Suka